Sabtu, 15 November 2008

Nabi Ibrahim

Kisah kehidupan dan perjuangan Nabi Ibrahim yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah suatu pendidikan yang meninggalkan kesan amat mendalam terhadap pembentukan pribadi Muslim.
Di saat masih muda belia dia telah mulai menyatakan pendiriannya yang tegas di hadapan ayah kandungnya sendiri, yang nyata pendiriannya yang ditegaskan berlawanan dengan pendirian ayahnya. Beliau telah menunjukkan perbedaan di antara cinta kepada ayah dengan pendirian yang benar. Ayah beliau adalah salah seorang pembuat berhala dan penjaganya.
Di dalam surat Maryam dari ayat 41 s.d 50 kita lihat betapa Ibrahim yang berkeyakinan penuh terhadap Allah menegur kesalahan ayahnya dengan penuh cinta.
Coba kita lihat betapa Allah mengisahkan seruan anak yang mencintai ayahnya itu, menyusun kata penuh-penuh cinta kepada seorang ayah.
“Wahai ayahku, apakah sebabnya engkau menyembah barang yang tidak mendengar dan tidak melihat, dan tidak sedikit pun aku memadai bagimu”.
“Wahai ayah : Sesungguhnya telah datang kepadaku ilmu, yang tidak datang kepada engkau, sebab itu ikutlah aku niscaya akan aku tunjukkan kepada engkau jalan yang benar. Wahai ayahku, janganlah ayah menyembah syaitan karena sesungguhnya syaitan itu adalah durhaka kepada Tuhan Yang Rahman. Wahai ayah, sesungguhnya aku takut ayah akan ditimpa oleh Tuhan Yang Rahman itu dengan siksaan, maka jadilah ayah dibawah pengaruh syaithan”.
Seruan anak itu betapa pun penuh dengan kecintaan, telah sangat menyinggung perasaan si ayah, yang merasa dirinya lebih pintar dan lebih banyak pengalaman. Lalu dia menyambut seruan anaknya dengan sambutan yang tidak enak” Apakah engkau tidak suka kepada tuhan-tuhan yang aku puja itu, ya Ibrahim? Kalau tidak engkau hentikan perbuatanmu itu, pastilah engkau akan aku timpuki dengan batu”. Inilah sambutannya yang pertama atas ajakan anaknya. Tetapi setelah agak reda marahnya, kasihnya kepada anaknya timbul kembali. Sebab itu supaya pertentangan jangan berlarut-larut, akhirnya si ayah berkata : “Dan tinggalkanlah aku sementara waktu?.
Karena teguhnya pada pendiriannya, si anak menerima keputusan ayahnya itu. Bila kita baca ayat itu kembali dengan seksama terasalah kerelaan anak bercerai dengan ayahnya. Ibrahim berkata : “Salamun ‘alaika” yang sama artinya dengan “selamat tinggal” ayahku! Aku akan akan memohon ampun untuk ayah dari Tuhanku, karena Tuhan sayang kepadaku.
Meninggalkan kesan dalam jiwa seorang Muslim bahwa semangat muda menumbuhkan keberanian moral menghadapi segala macam kemungkinan di dalam hidup. Walaupun dimasukkan ke dalam api menyala sekalipun.
Perjuangan Ibrahim diwaktu muda menentang pendapat ayahnya, menentang adat istiadat kaumnya dan menentang raja sekalipun dan untuk bersedia dibuang jauh dari tanah air dan hidup di negeri lain, adalah suri teladan yang ditanamkan al-Qur’an dalam hati Muslim sejati sehingga mereka tidak merasa ragu-ragu buat mengambil tindakan, apabila dia telah yakin kebenaran pendiriannya.
Kisah hidup Nabi Ibrahim di waktu muda adalah salah satu ajaran revolusioner yang melekat dalam jiwa seorang Muslim. Nabi Muhammad dalam salah satu sabdanya mengatakan bahwa darah muda adalah salah satu bagian dari “Gila” Dorongan darah mudalah yang menyebabkan Ibrahim berbuat satu sikap yang dapat dituduh gila oleh kaumnya, bahkan oleh ayahnya sendiri. Dia tidak melihat kekuatan lawan, karena percaya akan kekuatan kebenaran pendiriannya.
Kalau tidak ada ke “gilaan” semacam ini masyarakat yang telah membeku tidaklah bisa dirombak. (Panji Masyarakat I/403 Maret 1967) (esha)

Berbuka Makanan Surga

Sebuah riwayat menyebutkan, Wali Ilyas Al-Nasyabi, yang mendapat panggilan Ibnu Yasin, duyakini masih hidup di bumi bersama Nabi Khidir. Sedangkan Nabi Isa dan Idris juga masih hidup di langit.
Ilyas dan Khidir saling berkumpul pada saat bulan Ramadhan di Baitul Makdis. Keduanya mengerjakan ibadah haji di Padang Arofah dan minum air zamzam.
Dalam suatu perjalanan bersama Rasul, di suatu lembah, Anas bin Malik mendengar seseorang berkata “Ya Allah, jadikanlah aku salah satu dari umat Muhammad yang dicintai, diberi ampunan, dan diterima tobatnya” Selanjutnya Anas berkisah :

Kudekati lembah itu, dan ternyata ada seseorang di sana.
”Siapa kamu? “dia bertanya. “Anas bin Malik, aku pelayan Rasul” jawabku. “Di mana beliau? “ia bertanya lagi.
“Ada di sini, beliau mendengar ucapanmu” jawabku. “Temui beliau dan sampaikan salamku. Katakan padanya Saudaramu, Ilyas, menyampaikan salam” katanya. Maka kuberitahukan hal itu kepada beliau. Kemudian Rasulullah menemui, memeluk, dan mengucapkan salam kepadanya. Setelah itu keduanya duduk, dan berincang-bincang. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak makan dalam setahun kecuali hanya suatu hari. Dan hari ini adalah hari berbukaku, aku akan makan bersamamu”. Maka turunlah meja makan dari langit yang di atasnya terdapat roti, ikan laut dan daun seledri. Lalu mereka berdua makan dan juga memberiku makan, lalu kami shalat Asar. Setelah itu, Ilyas meninggalkan Rasul dan aku melihat lintasan perjalanannya di awan menuju langit. Sebuah riwayat menyebutkan, hal itu terjadi dalam Perang Tabuk ketika Rasul mengutusnya. Keduanya mengatakan : “Ternyata ia seorang yang berbadan dua atau tiga hasta lebih tinggi dari kami”. Ketika Rasul berkumpul dengan Ilyas, keduanya makan-makanand ari surga. Ilyas berkata: “Setiap 40 hari saya baru makan” Sedangkan di meja makan itu terdapat roti, anggur, pisang, kurma dan sayur-sayuran selain bawang.
Rasul bertanya perihal Khidir, maka ia menjawab “Sesungguhnya engkau akan bertemu dengannya sebelumku, maka sampaikan salamku untuknya”.
Ilyas adalah Nabi ke 17 Beliau diutus untuk menyadarkan penduduk Ba’albak atau Punicia yang menyembah berhala Ba’al. Negaranya terletak di bagian pantai Arab Utara, tapi ada yang menyebut sebelah Barat Damaskus sekarang.
Nama Ilyas disebut dua kali dalam S. Al-An’am ayat 85 bersama dengan Nabi Zakaria, Yahya dan Isa sebagai orang-orang yang shaleh dan S. As-Shaffat ayat 123, sebagai seorang dari orang yang di utus Allah.
Karena penolakan itu, Allah menurunkan azab, kecuali orang-orang yang menerima seruan Ilyas, berupa musim kering selama 3 tahun berturut-turut sehingga mereka kelaparan, karena tanaman dan ternak mereka rusak. Akhirnya mereka menerima ajakan Ilyas. Tetapi, setelah kehidupan menjadi normal, mereka mengulangi penyembahan berhala.
Melihat kenyataan itu Ilyas memohon kepada Allah agar tugasnya diakhiri, dan beliau pun wafat. Tugasnya diteruskan oleh Nabi Ilyasa’ keponakannya sendiri. Tetapi ada riwayat yang menyebutkan Ilaysa’ anak seorang perempuan Bani Israel tempat Ilyas menyembunyikan diri dari kejaran umatnya yang tetap durhaka. Dia mempunyai seorang anak lelaki Ilyasa’ yang penyakitan. Setelah disembuhkan Ilyas, Ilyasa’ menjadi pengiring setia Ilyas.Nama Ilyasa’ disebut dua kali dalam S. Shad ayat 48 dan S. Al-An’am ayat 86.Ia termasuk dalam daftar Nabi Bani Israel. (Al-Kisah No. 13 Juni 2005) (esha).

Bahtera Nabi Nuh

Bahtera Nabi Nuh

Suatu ketika dulu, bumi telah telah ditenggelami oleh banjir besar yang membinasakan semua hidupan yang ada. Hanya manusia yang beriman dan beramal soleh sahaja yang terselamat. Mereka yang terselamat adalah mereka yang menaiki bahtera Nabi Nuh. Antara yang terselamat daripada bencana banjir besar tersebut, termasuklah pasangan haiwan.
Baru-baru ini kami telah menerima kiriman e-mail yang telah diforwardkan melalui e-groups [fikrah] Samada gambar yang dikirimkan adalah benar-benar gambar bahtera Nabi Nuh yang dimaksudkan atau tidak, bersamalah kita melihat dan mengambil sebarang pengajaran yang terdapat padanya, insya Allah.

Jumat, 14 November 2008

Juara I MKTQ dan Siap Tampil Ke MTQ Makassar

FAKULTAS HUKUM UNAND BERJAYA DI MKTQ TINGKAT UNIVERSITAS

Kembali Fakultas Hukum Universitas Andalas menorehkan prestasi gemilang.Setelah sukses merajai Lomba Karya Tulis Ilmiah Pusako tingkat Sumatera Barat beberapa minggu yang lalu,kali ini berhasil menjuarai Musabaqah Karya Tulis Al-Qur’an (MKTQ) Tingkat Universitas Andalas pada tanggal 12 November 2008 dengan karya tulis berjudul ”Implementasi Hukuman Pidana Mati Dalam Perspektif Hukum Pidana Islam Dan Hukum Positif Indonesia” yang ditulis oleh Ichwan,Rivanli Azis dan Adrian Fetriskha yang merupakan ”The Dream Team” Fakultas Hukum Unand.Kemenangan mereka disambut gembira oleh Bapak Rembrandt SH,M.Pd selaku Pembantu Dekan III FH Unand dan Ibu Nilma Suryani SH,MH yang telah membimbing karya tulis mereka.Selain mendapatkan Piala,mereka juga mendapat hadiah uang dari Unand dan bonus dari Fakultas Hukum Unand.
The Dream Team tak asing lagi dimata mahasiswa Fakultas Hukum Unand dan birokrat kampus.Kemenangan mereka sudah diprediksikan sejak awal.Ketiganya dikenal sebagai aktivis kampus.Ichwan misalnya dahulu aktif di Lembaga Pengkajian Islam (LPI) FH Unand dan sekarang lebih intens ke Lembaga Pengkajian dan Penulisan Ilmiah (LPPI) FH Unand.Rivanli Azis pernah menjabat staf deplu BEM KM Unand Periode 2007-2008,Koordinator Humas LPI FH Unand 2007-2008 dan sempat menjadi Sekretaris DPC Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) Kota Padang tahun 2008.Adrian Fetriskha pernah memimpin LPI FH Unand tahun 2006-2007 dan UKM Forum Kajian Islam Rabbani 2007-2008.
Walaupun menjadi aktivis ketiganya masih mampu berprestasi baik dikampus dan luar kampus.IPK mereka rata-rata diatas 3,25 dam masih sempat juga menjuarai berbagai perlombaan.Ichwan misalnya pernah menjuarai lomba karya tulis ilmiah perbankan syari’ah BNI Nasional tahun 2007 di Jakarta dan menjadi kontestan Unesco Conversation II 2008 di Jakarta.Rivanli Azis meraih juara 2 LKTI Pusako dan mewakili Unand dan Sumatera Barat di ajang dialog kebangsaan mahasiswa tingkat nasional di Bogor.Adrian Fetriskha meraih Juara 1 lomba melukis tingkat mahasiswa se-sumbar tahun 2005,Juara 1 lomba design logo PIMNAS Unand tahun 2004,dan Juara 1 Lomba karikatur mahasiswa tingkat Se-sumbar tahun 2005.Dua orang terakhir ini merupakan alumni beastudi etos Dompet Dhuafa Republika,sebuah lembaga amil zakat terbesar di tanah air.

Buka Puasa

Jangan Berbuka Puasa Dengan Yang Manis
Posted by Herry @ 00:44 | in Artikel, Sains | e-mail this article | + to del.icio.us
Oleh Herry Mardian
SEBENTAR lagi Ramadhan. Di bulan puasa itu, sering kita dengar kalimat ‘Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis,’ katanya. Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?
Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”
Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan ‘yang manis-manis’? Tidak. Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate). Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate).

Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak jelas. Malah berkembang jadi waham umum di masyarakat, seakan-akan berbuka puasa dengan makanan atau minuman yang manis adalah ’sunnah Nabi’. Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka puasa dengan makanan manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan.
Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka puasa ‘disunnahkan’ minum atau makan yang manis-manis. Sependek ingatan saya, Rasulullah mencontohkan buka puasa dengan kurma atau air putih, bukan yang manis-manis.
Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis. Kurma segar merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori rendah, sehingga tidak menggemukkan (data di sini dan di sini). Tapi kurma yang didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di bulan Ramadhan sudah berupa ‘manisan kurma’, bukan lagi kurma segar. Manisan kurma ini justru ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam perjalanan ekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma impor yang masih asli dan belum berupa manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya menjadi sangat mahal.
Kenapa berbuka puasa dengan yang manis justru merusak kesehatan?
Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula (karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu diproses sehingga makan waktu. Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak naik, langsung. Bum. Sangat tidak sehat. Kalau karbohidrat kompleks seperti kurma asli, naiknya pelan-pelan.
Mari kita bicara ‘indeks glikemik’ (glycemic index/GI) saja. Glycemic Index (GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh. Makin tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan itu dirubah menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan respons insulin.
Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi. Sebisa mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah. Kenapa? Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin menimbun lemak. Penimbunan lemak tubuh adalah yang paling dihindari mereka.
Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri dengan gula (makanan yang sangat-sangat tinggi indeks glikemiknya), sehingga respon insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh akan sangat cepat merespon untuk menimbun lemak.
Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang diberi Allah ‘ilm tentang urusan kesehatan jasad manusia. Kata Beliau, bila berbuka puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air putih segelas, lalu sholat maghrib. Setelah shalat, makan nasi seperti biasa. Jangan pernah makan yang manis-manis, karena merusak badan dan bikin penyakit. Itu jawaban beliau. Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma yang ada di Indonesia adalah ‘manisan kurma’, bukan kurma asli. Manisan kurma kandungan gulanya sudah jauh berlipat-lipat banyaknya.
Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks. Perlu waktu untuk diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam tubuh juga tidak melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka kecenderungan tubuh untuk menabung lemak juga rendah.
Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan puasa yang justru lemaknya bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak: perut, pinggang, bokong, paha, belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu karena langsung membanjiri tubuh dengan insulin, melalui makan yang manis-manis, sehingga tubuh menimbun lemak, padahal otot sedang mengecil karena puasa.
Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin terlihat seperti ‘buah pir’, penuh lemak di daerah pinggang. Karena waham umum masyarakat yang mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis adalah ’sunnah’, maka puasa bukannya malah menyehatkan kita. Banyak orang di bulan puasa justru menjadi lemas, mengantuk, atau justru tambah gemuk karena kebanyakan gula. Karena salah memahami hadits di atas, maka efeknya ‘rajin puasa = rajin berbuka dengan gula.’
Ingin ‘Kurus’
Melenceng dikit dari topik blog ya. Dikit aja. Itung-itung bonus.
Untuk sahabat-sahabat yang ingin kurus: jangan diet (dalam pengertian mengurangi frekuensi makan). Diet justru menambah kecenderungan tubuh untuk menabung lemak karena ‘dilaparkan’. Ketika diet memang makanan tidak masuk, tapi begitu makanan masuk, kecenderungan tubuh untuk menimbun lemak dari makanan justru lebih besar.
Rahasia kurus sebenarnya adalah menjaga agar respon insulin dalam tubuh stabil, tidak melonjak-lonjak. Caranya, hanya makan makanan yang memberi respon insulin rendah, yaitu yang indeks glikemiknya rendah.
Respon insulin tubuh meningkat bila:
(1) Makin tinggi jumlah karbohidrat yang dimakan dalam satu porsi, makin tinggi pula respon insulin tubuh (ini umumnya porsi kita di Indonesia: lebih dari 70 persen dari satu porsi makannya adalah nasi).
Makanya, makanlah dengan karbohidrat cukup lima puluh persennya saja. Sisanya protein, dan 5-10 persennya lemak. Lemak ini cukup dari lemak yang terkandung dalam daging yang kita makan, misalnya. Atau kuning telur. Tidak perlu menambah minyak atau memakan lemak hewan (yang justru buruk pengaruhnya bagi tubuh). Lemak (sedikit!) masih diperlukan untuk mengolah beberapa nutrisi dan vitamin, dan untuk membawa nutrisi ke seluruh tubuh.
(2) Semakin tinggi GI (Glycemic Index) karbohidrat yang dikonsumsi, semakin meningkat pula respon insulin tubuh. Makanya, makan hanya makanan yang GI-nya rendah. Nanti saya jelaskan di bawah.
(3) Semakin jarang makan, semakin meningkat respon insulin setiap kali makan.
Ini sebabnya diet (dalam pengertian: mengurangi frekuensi makan supaya kurus) tidak akan pernah berhasil untuk jangka lama. Setelah diet selesai, tubuh justru akan cenderung lebih gemuk dari sebelum diet. Supaya kurus (baca: supaya respon insulin tidak melonjak) justru harus makan lebih sering (4-5 kali sehari) tapi dengan porsi setengah atau sepertiga porsi biasa, dengan karbohidrat maksimal 50 persen saja setiap porsi.
Kalau respon insulin tubuh sudah stabil, maka tinggal diatur: kalau ingin kurus, kalori yang masuk harus lebih sedikit dari kalori makanan yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari hari. Tambah dengan olahraga teratur untuk membakar lemak berlebih dalam tubuh, dan memperbesar otot. Otot membutuhkan energi, maka makin terlatih otot, ia akan makin mengkonsumsi lemak dalam tubuh kita untuk energi.
Sebaliknya kalau ingin memperbesar otot (bukan gemuk) atau mengencangkan badan, maka kalori yang masuk harus agak lebih banyak dari jumlah kalori yang akan kita pakai untuk aktivitas selama sehari, agar otot mengalami pertumbuhan. Otot sendiri dirangsang pertumbuhannya dan ‘kekencangannya’ dengan olahraga teratur. Perbanyak protein agar pertumbuhan otot optimal. Karbohidrat cukup diposisikan sebagai bahan pemberi energi, bukan untuk mengenyangkan perut.
Lucu ya: kalau ingin kurus atau memperbaiki bentuk badan, termasuk menumbuhkan otot, justru harus makan lebih sering dengan porsi kecil. Makan yang mengandung lemak, goreng-gorengan, kanji, atau karbohidrat sederhana seperti gula, manisan, minuman ringan bersoda dan sebangsanya itu sudah out of the question. Kalau kita jarang makan, atau makan tidak teratur dan sekalinya makan ‘balas dendam habis-habisan’, ya justru respon insulin kita juga melonjak dan membuat tubuh jadi menimbun lemak.
Sekali lagi, baik ketika berbuka puasa atau dalam makanan keseharian, makanlah makanan yang seimbang: 50 persen karbohidrat kompleks, 40-45 persen protein dan 5-10 persen lemak dalam setiap porsinya. Jauhilah karbohidrat sederhana sebisa mungkin. Kalaupun harus makan karbohidrat sederhana karena butuh energi cepat carilah yang nilai indeks glikemiknya rendah.
Karbohidrat kompleks membutuhkan waktu untuk diubah tubuh menjadi energi. Dengan demikian, makanan diproses pelan-pelan dan tenaga diperoleh sedikit demi sedikit. Dengan demikian, kita tidak cepat lapar dan energi tersedia dalam waktu lama, cukup untuk aktivitas sehari penuh. Sebaliknya, karbohidrat sederhana menyediakan energi sangat cepat, tapi akan cepat sekali habis sehingga kita mudah lemas. Maka, ketika makan sahur, jangan makan yang banyak mengandung gula, karena kita akan cepat lemas. Makanlah karbohidrat kompleks (protein jangan dilupakan!) sehingga kita tetap berenergi sampai waktu berbuka.
Karbohidrat sederhana, GI tinggi (energi sangat cepat habis, respon insulin tinggi: merangsang penimbunan lemak) adalah: sukrosa (gula-gulaan), makanan manis-manis, manisan, minuman ringan, jagung manis, sirop, atau apapun makanan dan minuman yang mengandung banyak gula. Hindari, puasa atau tidak puasa.
Karbohidrat sederhana, GI rendah (energi cepat, respon insulin rendah): buah-buahan yang tidak terlalu manis seperti pisang, apel, pir, dan sebagainya. Sekarang ngerti kan, kenapa para pemain tenis dunia, pemain bola, pemain basket atau pelari sering terlihat ‘ngemil pisang’ di pinggir lapangan? Karena mereka butuh energi cepat, tapi nggak ingin badannya gembul berlemak.
Karbohidrat Kompleks, GI tinggi (energi pelan-pelan, tapi respon insulinnya tinggi): Nasi putih, kentang, jagung.
Karbohidrat Kompleks, GI rendah (energi dilepas pelan-pelan sehingga tahan lama, respon insulin juga rendah): Gandum, beras merah, umbi-umbian, sayuran. Ini yang paling dicari para praktisi fitness.
Makanan yang diproses pelan-pelan (karbohidrat kompleks) akan membuat kita tidak cepat lapar dan energi dihabiskan cukup untuk aktivitas satu hari penuh; respon insulin rendah membuat tubuh kita tidak cenderung untuk menabung lemak.
Kalau saya pribadi, sahur cukup dengan oatmeal gandum (ditambah gula sedikiiiiiit), atau roti coklat gandum, dua atau tiga butir telur rebus (kuningnya saya hancurkan dan ditebarkan di rumput untuk makanan semut-semut di halaman rumah), sayuran segar, dan air putih. Ini sudah cukup untuk membuat tenaga saya tidak habis sampai buka puasa karena energi dari karbohidrat kompleksnya (gandum) akan dilepas pelan-pelan ke dalam tubuh sepanjang hari. Ketika berbuka, sesuai anjuran Rasulullah dan sufi tadi, saya biasanya minum segelas air, lalu shalat maghrib. Setelah shalat makan nasi seperti biasa, sebisa mungkin dengan porsi karbohidrat-protein-lemak-air proporsional. Dan tentu tidak untuk ‘balas dendam’ karena puasa seharian. Ini justru saat yang penting untuk melatih melawan keinginan hawa nafsu ‘makan sekenyang-kenyangnya’. Belajar sabar.
Waham Umum
Oke, kembali ke topik. Nah, saya kira, “berbukalah dengan yang manis-manis” itu adalah kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa atas hadits tentang berbuka diatas. Karena kurma rasanya manis, maka muncul anggapan bahwa (disunahkan) berbuka harus dengan yang manis-manis. Pada akhirnya kesimpulan ini menjadi waham dan memunculkan budaya berbuka puasa yang keliru di tengah masyarakat. Yang jelas, ‘berbukalah dengan yang manis’ itu disosialisasikan oleh slogan advertising banyak sekali perusahaan makanan di bulan suci Ramadhan.
Namun demikian, sekiranya ada di antara para sahabat yang menemukan hadits yang jelas bahwa Rasulullah memang memerintahkan berbuka dengan yang manis-manis, mohon ditulis di komentar di bawah, ya. Saya, mungkin juga para sahabat yang lain, ingin sekali tahu.
Semoga tidak termakan waham umum ‘berbukalah dengan yang manis’. Atau lebih baik lagi, jangan mudah termakan waham umum tentang agama. Periksa dulu kebenarannya.
Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah: “Makanlah hanya ketika lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang.” Juga, isi sepertiga perut dengan makanan, sepertiga lagi air, dan sepertiga sisanya biarkan kosong.
“Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah merasa lapar barulah makan, dan apabila makan tidak hingga kenyang,” kata Rasulullah.
“Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk memperkokoh tulang belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak dapat dihindari, cukuplah sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya yang bersumber dari Miqdam bin Ma’di Kasib)
Semoga bermanfaat….
Wassalaamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Herry Mardian, Yayasan Paramartha (juga menggemari body building)
Terima kasih kepada Abdul Saman, Dian Novi, Imam Suhadi, Muhammad Sigit, Zaenal Mutaqqin, Efi Hanafi, Rahmat Sudarsono dan Melissa Rosanti atas segala ’stimulus’-nya sehingga muncul artikel ini.

All works above are licensed under
Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 License
«« Previous Post
'Bangkit Dari Keterpurukan'

.:: TrackBack: Right click here and copy link for TrackBack URI ::.

:: RSS feed for comments to this post ::

14 Comments - (Give Comment) »
1. Eeh gue salah masuk website ya!? kok tiba-tiba ada panduan untuk fitness dan diet…
Comment by Rachmat Ardiyanto — Thursday, August 2, 2007 @ 01:07
2. dikiiit!
Comment by Herry — Thursday, August 2, 2007 @ 01:12
3. culik ah..
Comment by gina — Thursday, August 2, 2007 @ 15:32
4. ambil, gin!
Comment by Herry — Thursday, August 2, 2007 @ 15:33
5. Mas Herry Mardian,
“Tidurnya orang berpuasa berpahala”.
Orang yang sedang tidur layaknya seperti orang mati, perbedaannya: ada nafas dan tidak ada nafasnya, persamaannya: sama-sama tidak punya hawa nafsu, kecuali tidurnya orang yang mimpi basah (mungkin).
Maaf melenceng dari topik.
Kalau seseorang meng-idola-kan makanan berbuka puasa padahal waktu itu belum saatnya untuk berbuka puasa, apakah hal ini mengumbar hawa nafsu?
Pada bulan Ramadhan ada ’satu malam’ dan ’satu rasa’ yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang, tapi kebanyakan melupa atau terlupa bahkan lupa.. apakah Mas Herry pernah mengalami ‘lailatul qadr’ dan ‘fitri’ (bukan ‘idul fitri’ loh)?
Terimakasih sebelumnya, juga atas responnya yang begitu cepat pada topik Bangkit Dari Keterpurukan.
Rageh.

Tanya-Jawab

Saturday, March 31, 2007
Kenapa Al-Qur’an Tidak Jelas Sistematikanya?
Posted by Herry @ 00:17 | in Artikel, Pengetahuan Islam Dasar, Tanya Jawab, Renungan | e-mail this article | + to del.icio.us
[TANYA]
SEMOGA Allah selalu memberi keselamatan bagi kita semua. Bisakah memberi petunjuk kepada saya kenapa ayat-ayat dalam Al-Quran tidak tersusun secara sistematis? Adakalanya ditemukan pokok bahasan yang melompat-lompat dalam satu surat.
Bagaimana cara meraih makna dari kitab suci ini dengan baik sehingga bisa diamalkan dalam kehidupan kita? Apakah ada pengaruhnya jika kita bisa berbahasa arab dalam mempelajari Al -Quran?
Wassalam,
–Wisnu Wijayanto–


[JAWAB]
I. Lucky G. Adhipurna
PERTANYAAN bagus! sayangnya saya gak punya jawaban bagus. Ini sekadarnya aja.
Bacaan kita bilang “sistematis” (logis, rasional, masuk akal, dan lain-lain) kalo bacaan itu masuk, klop, pas, fit, cocok, ludes termakan “skema” fakultas pikir kita.
Padahal, “bacaan” kita yang satu ini (al-Qur’an) justru bertujuan “mentransformasi” skema fakultas pikir kita itu (bahkan seluruh fakultas kedirian kita).
Kalo kita baca sesuatu yang “sistematis” (yang nyaman masuk selera skema pikir kita), praktis kita tidak belajar apapun dari bacaan itu (jangankan ter-transformasi oleh bacaan itu).
Contoh, saya lancar dan nyaman baca buku “The Tao of Physics”, saya sudah familiar dengan jalan pikir buku itu, jalan pikir argumen buku itu klop dengan skema pikir saya: maka praktis, saya tidak belajar apapun (yang baru, mendasar, ground-breaking, transforming knowledge) dari buku itu.
Kalo pun saya “merasa” belajar dan dapat sesuatu dari buku itu, itu sekadar ilusi, justifikasi, amplifikasi dari skema kerdil pikiran saya yang itu-itu juga, yang gak dapat pelajaran apapun dari buku itu.
Jadi, kembali ke laptop, tentang apa yg salah dgn al-Qur’an; yang salah adalah gagasan kita tentang yang “sistematis”, logis, masuk akal, dan lain-lain itu. Al-Qur’an yang mau menciptakan akal baru dalam diri kita, kok dipaksa supaya bisa masuk akal sempit pikiran kita.
Terkait kemampuan bahasa ‘arab, dari sisi teknis tentu bisa dibilang kalo itu mendukung. Tapi pada prinsipnya, kita memahami al-Qur’an sejauh diri kita berhasil ditransformasi secara lahir dan bathin olehnya. Toh sangat banyak orang yang mampu berbahasa ‘arab tapi kenyataannya al-Qur’an sama sekali tidak mentransformasi dirinya, dan bagitu banyak hal-hal dalam al-Qur’an yang belum mampu dia pahami.
Mungkin gitu.
Salaam,
–Lucky G. Adhipurna–

II. Alfathri Adlin
SAYA pernah ikutan tes buta warna sewaktu mau masuk kuliah dulu. Rupanya tes buta warna itu berupa berbagai bulatan warna yang disusun acak-acakan namun membentuk pola tertentu. Saya lulus tes buta warna. Namun, suatu ketika, saya mengantarkan adik kelas saya untuk ikutan tes buta warna. Rupanya, sekian pola acak warna tersebut tidak tertangkap polanya oleh mata dia. Dia tidak melihat angka atau jalur yang terbentuk dari warna-warna tersebut. Di situlah saya baru tahu kalau dia itu buta warna dan bahwa orang buta warna itu kayak gitu.
Nah, demikian pula Al-Quran. Tapi Al-Quran itu bukan alat tes buta warna, tapi alat tes buta mata hati. Kalau kita melihat Al-Quran masih sebagai sebuah kitab dengan ayat-ayat yang acak-acakan, maka itu tanda kita masih buta mata hati. Namun, kalau kita melihat Al-Quran sudah sebagai sebuah kitab dengan ayat-ayat yang satu sama lainnya mengikat sangat kuat, sekuat mata rantai, seperti yang pernah diungkapkan dan dialami oleh mursyid dan kakak sulung kita, maka itu berarti kita sudah tidak buta mata hati lagi. Kalau tidak salah Imam Al-Ghazali pernah berkata bahwa sebagaimana halnya matahari bagi mata lahiriah kita, Al-Quran adalah matahari bagi mata batiniah kita, saking terangnya.
demikian dari saya…. mohon maaf kalau ada silap kateu….
Wass. Wr. Wb.
–Alfathri Adlin–

III. Herry Mardian
MAS Wisnu, alhamdulillah.
Qur’an, memang tidak mudah dipahami. Ayat-ayatnya tampak tidak sistematis dan melompat-lompat, jika instrumen untuk memahami Qur’an kita menggunakan pikiran atau rasio, paradigma sistematika yang dalam standar kita, teratur. Dan memang, sangat sedikit orang yang telah mampu menjangkau makna Qur’an (mereka yang mampu dijelaskan di artikel ini), walaupun itu para pejalan spiritual. Ada yang sudah ‘terbuka’, ada yang baru terbuka secara global dan belum detil (abstraksi), ada yang baru bisa paham sedikit sedikit, itu pun dengan dibantu oleh mereka yang sudah ‘terbuka’, ada yang belum bisa memahami.
Porsi terbesar makna Qur’an memang hanya bisa dijangkau —bukan— dengan instrumen rasio atau akal jasad kita ini, melainkan dengan instrumen ‘aql atau akal nafs/jiwa. Jika sebagian besar manusia bahkan tidak menyadari bahwa dalam dirinya ada diri yang lebih sejati dari diri fisikalnya, yaitu nafs, apa lagi menggunakan akal nafs-nya (’aql) untuk memahami persoalan. Karena akal jiwa (’aql) juga disebut dengan istilah lubb, maka orang-orang yang ‘aql nya telah berfungsi disebut juga ‘ulil-albab. Itulah sebabnya dalam qur’an begitu sering dikatakan berulang-ulang,
“hanya ulil-albaab sajalah yang mampu mengambil pelajaran.”
Pendek kata, porsi terbesar makna qur’an memang ter-enkripsi, dan instrumen untuk membuka enkripsi qur’an hanyalah ‘aql/lubb, bukan akal jasad (rasio). Dan orang-orang yang dalam dirinya telah memiliki lubb atau ‘aql ini belum tentu seorang ustadz terkenal ataupun mereka yang sekolah agama hingga S-4. Belum tentu. Namun demikian, sebagai kitab pembimbing manusia, mereka yang belum memiliki lubb pun diizinkan ‘membaca’ sedikit makna dan beberapa rahasianya, walaupun hanya sebagian kecil saja.
Mampu berbahasa ‘arab pun belum menjamin seseorang bisa menjangkau makna Qur’an, karena qur’an pada dasarnya adalah bahasa Qur’an, bukan bahasa ‘arab untuk berkomunikasi (contoh kita tidak akan akurat memahami qur’an jika hanya menggunakan bahasa ‘arab biasa ada di artikel ini dan artikel ini). Demikian banyak orang yang berbahasa ‘arab tapi juga tidak mengerti makna-makna ayat Qur’an. Tapi tentu, bisa berbahasa ‘arab (qur’ani, bukan bahasa komunikasi sehari-hari) akan jauh lebih mudah memahaminya daripada tidak bisa sama sekali.
Tapi hal yang terpenting adalah, bahwa kita mulai jujur pada diri kita sendiri dalam beragama ini. Kita berhenti mengindoktrinasi diri bahwa kita memahami Qur’an, bahwa Qur’an adalah kitab teragung, bahwa Qur’an mencakup jawaban bumi dan langit, dan sebagainya. Hal itu memang benar, tapi ‘dari sisi mana?’-nya kita sama sekali tidak paham.
Pelan-pelan, kita mulai semakin jujur bahwa: kita tidak mampu menjangkau Qur’an. Kita tidak memahami shalat dan gerakan-gerakannya. Tidak memahami makna puasa. Makna zakat. Makna rakaat-rakaat shalat dan waktu-waktunya. Makna haramnya minuman keras, diizinkannya poligami, hukum waris yang ‘aneh’ karena lelaki mendapat dua kali bagian wanita, dan lain sebagainya. Ternyata, kita tidak memahami diin kita. Tidak memahami hidup kita, sejarah diri kita, kenapa bertemu si A dan tidak B, kenapa bagian ini ada musibah dan bagian itu ada keberuntungan. Kita lama kelamaan akan menyadari bahwa kita bahkan tidak memahami diri kita sendiri. Selama sekian puluh tahun hidup, kita bahkan tidak kenal siapa kita!
Ini adalah awal kita mulai memahami hakikat ‘hamba’ pada diri kita: bahwa kita adalah makhluk yang lemah, yang bodoh, yang perlu bimbingan. Kita adalah ‘makhluk’, yang akan senantiasa butuh Rabb-nya, setiap saat. Tidak semua orang mampu mengerti, merasakan dan memahami hal ini, merasakan hakikat ‘hamba’ ini. Padahal,
“Wamaa khalaqtul jinna wal insa illa li ya’buduun.” (Q. S. 51 : 56)
‘Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka ‘ya’bud’,” ‘abid, meng-’abdi’, meng-hamba. —Bukan— diciptakan cuma untuk ‘beribadah’ dalam pengertian untuk shalat, puasa, zakat, dan seterusnya. Tapi meng-abdi. Meng-hamba. Bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Total.
Ini penting. Selama kita masih yakin akan kemampuan kita sendiri, entah itu di sisi agama, penghasilan, ilmu, kecerdasan, dan lain sebagainya; selama kita masih yakin bahwa ada kemampuan diri kita yang membuat kita mampu melalui hari esok dengan selamat, hakikat ‘penghambaan’ tidak akan pernah muncul dari dalam diri kita.
Jika kita sudah mulai menyadari bahwa ‘kita ternyata nggak bisa apa-apa sama sekali!’, maka insya Allah itu adalah saat bahwa kita benar-benar butuh Allah. Kelak sebelum menghadapi setiap hal, kita tidak akan pernah berhenti memohon pada-Nya untuk dibimbing, diajari dan dituntun oleh Tuan kita, sebaik-baik majikan bagi para hamba-Nya. Dengan demikian, mulai saat itu setiap peristiwa dalam hidup kita justru akan menjadi rangsangan untuk mengingat-Nya. Saat itu, setiap saat kita ada dalam kondisi memohon. Saat itu, setiap saat kita ada dalam kondisi zikir pada-Nya….
Tanpa menyadari hakikat ‘hamba’ (budak) dalam diri kita ini, sang Tuan tidak akan pernah menunjukkan jalan menuju diri-Nya, apalagi mengenalkan sifat ‘Maha Raja’-nya pada kita. Walaupun kita punya segunung prestasi, tapi jika kita belum sepenuhnya bergantung kepada-Nya mengabdi, pada dasarnya kita sama sekali belum berfungsi.
Mulai dari jujur pada diri kita sendiri. Selamat berjalan, Mas Wisnu… selamat berjalan, sahabat-sahabat. Semoga Dia mengajarkan pada kita semua tentang diri-Nya.
Wass Wr Wb
–Herry Mardian–

IV. Imam Suhadi
KANG Wisnu, menarik sekali membahas hal yang disampaikan Kang Wisnu.
Jika kita merujuk kepada Q.S. 3:7, dimana dijelaskan adanya ayat muhkamat dan ayat mutasyabihaat. Dan dengan jelas tercantum, tidak memahami ayat mutasyabihaat kecuali ulil-al-baab. Berkait dengan ayat ini, saya kutipkan sebuah hadits Qudsi dimana dikatakan: “Barangsiapa melakukan apa yang diketahuinya, Maka Allah akan mengajarkan apa-apa yang tiada diketahuinya”. (tentang ulil-al-baab, dijelaskan di sini —ed).
Dari ayat-ayat muhkamat inilah sebenarnya kita memulai untuk mencoba memahami ayat-ayat yang melompat-lompat ini. Karena dengan menjalankan yang muhkamat ini, kelak kita akan diajarkan atau diberikan kepahaman tentang ayat-ayat yang melompat tersebut.
Permasalahannya adalah dalam menjalankan yang muhkamat tidak boleh pilih-pilih. Kita benar-benar dituntut untuk menjalankan semua yang muhkamat. Contoh ayat yang muhkamat adalah perintah shalat, puasa, zakat, shadaqah. Mungkin kita sudah menjalankan ini. Namun ada pula ayat-ayat muhkamat yang lain, yang mungkin kita abaikan, seperti memaafkan orang lain, sabar, syukur, tawakal, dsb.
Nah memulai dengan menjalankan yang muhkamat-muhkamat inilah semoga menjadi gerbang memahami yang lainnya. Dengan memulai menjalankan yang muhkamat, dengan hidayah-Nya, sedikit demi sedikit kita akan diberikan kepahaman tentang yang lainnya, sehingga kita akan melihat bahwa al-Qur’an ini sesungguhnya sangat sistematis dan tidak melompat-lompat.
–Imam Suhadi–
[]

All works above are licensed under
Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 License
«« Previous Post
'Para Pencari Yang Jujur (Dengan Dirinya)'
Next Post »»
'Pernikahan: Mengasah Diri Melalui Pasangan'

.:: TrackBack: Right click here and copy link for TrackBack URI ::.

:: RSS feed for comments to this post ::

13 Comments - (Give Comment) »
1. Wah, mantap nih pembahasannya. Tapi alasan diacak-acaknya urutan pembahasan Al-Quran juga upaya untuk menjaga keaslian Al-Qur’an itu sendiri. Sering kita lihat orang salah mengetikkan kata-kata,m tapi jarang kita lihat orang salah mengetikkan nomor telepon (yang biasanya berupa angka acak). Dengan diacaknya urutan pembahasan, maka manusia akan memiliki perhatian per ayat bahkan per huruf, sehingga penyimpangan dan usaha pemalsuan AlQuran bisa diminamilisir bahkan ditiadakan
Comment by QZoners — Saturday, March 31, 2007 @ 10:42
2. Bravo Mas Wisnu, sepertinya mas Wisnu sudah diajak jalan-jalan tuh…, udah merasakan ada yang janggal, engga banyak joga lho yang menyadari hal ini,
Sepertinya memang sebagaimana penyampaian Allah, “kami jadikan engkau bisa membaca sehingga tidak akan lupa…”, kesannya bahwa untuk membaca garis lurusnya, adalah bentuk, atau manifestnya dari suatu taqwil yang sudah ditanamkanNYA pada hati, kalau dengar-dengar ceritanya, yang mengalami hal ini tiba-tiba saja merasa faham, sehingga katanya sulit diungkapkan bagaimana prosesnya, seperti aliran air yang tiba-tiba ada dibawah tanah…, dibilang payah untuk menemukannya, atau mudah, sepertinya terletak pada Sang Maha Pembolak-Balik Hati…,…”dimudahkan kejalan yang mudah…” semoga segera ya..Mas Wisnu…, salam…
Comment by zal — Saturday, March 31, 2007 @ 14:34
3. Jazakillah Mas Wisnu, pertanyaannya direspon dgn sangat “baik” dan memberikan pencerahan. Semoga kita selalu dituntun oleh Nya untuk memahami Al Quran, amin…
Comment by hadijah — Monday, April 2, 2007 @ 13:46
4. Mas Wisnu,
Jawaban pertanyaan anda itu saat erat kaitannya dengan Firman-firmanNYA dalam Al qur’an yang banyak sekali menyatakan : ……..apakah kamu berpikir?. Kenapa banyak firman2 yg menyebutkan ayat2 tsb dikarena kita hidup di dunia ini harus mengkaji, menganalisa dan mengaplikasikan ayat2 di al Qur’an dengan mempergunakan AKAL yang diberikan olehNYA utk mengarungi hidup disini. Apabila perangkat AKAL tsb digunakan secara maksimal dan digabungkan dengan penyucian hati dan mengikuti koridor-koridor dariNYA maka insya allah akan dibukakan pemahaman hakikat segala sesuatu termasuk pemahaman isi Al Qur’an tsb…. Setelah disadari maka semua yang kita terima ini adalah karena setitik cinta kasihNYA kepada kita. Semoga kita semua menjadi khusnul kootimah.
Comment by Kalijaga — Wednesday, April 4, 2007 @ 12:14
5. Betul, untuk melengkapi, saya tambahkan…
Dasar-dasar ‘qalb’ sebagai entitas dalam diri manusia yang seharusnya dipergunakan untuk memahami persoalan adalah ayat-ayat berikut ini:
(1)
[7:179]
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ
قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا
وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ
هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
walaqad dzara/naa lijahannama katsiiran mina aljinni waal-insi —lahum quluubun laa yafqahuuna bihaa— walahum a’yunun laa yubshiruuna bihaa walahum aatsaanun laa yasma’uuna bihaa ulaa-ika kaal-an’aami bal hum adhallu ulaa-ika humu alghaafiluuna.
Terjemahan Depag:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Perhatikan:
“…lahum quluubun laa yafqahuuna biha…”
makna yang sesuai bahasa qur’annya adalah,
“Mereka mempunyai qalb-qalb (tetapi) tidak mem-‘faqih’-i (memahami) dengannya…”
—————–
(2)
[22:46]
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ
بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ
وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
afalam yasiiruu fii al-ardhi fatakuuna —lahum quluubun ya’qiluuna bihaa— aw aatsaanun yasma’uuna bihaa fa-innahaa laa ta’maa al-abshaaru walaakin ta’maa alquluubu allatii fii alshshuduuri
Terjemahan Depag :
“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
Perhatikan:
“…lahum quluubun ya’qiluuna biha…”

makna yang sesuai bahasa qur’annya adalah,
“mereka mempunyai qalb-qalb (dan) ber-‘aql dengannya…”
——————
Jadi, untuk ‘faqih’ akan sebuah persoalan, dan untuk memakai-‘aql (akal jiwa/nafs) tentang sebuah persoalan, adalah menggunakan ‘qalb’. Bukan akal dalam pengertian ‘rasio’.
Semoga bermanfaat,
wass. wr. wb
Comment by Herry — Wednesday, April 4, 2007 @ 14:06
6. [TANYA]
Apakah dengan demikian artinya orang seharusnya hanya menggunakan qalb untuk memandang persoalan? Apakah artinya ummat islam tidak boleh rasional? Dikit-dikit, hati, kalbu….
[JAWAB]
Tentu tidak. Karena ‘akal’ (akal rasional), yang merupakan akal jasad kita ini, seharusnya hanya menjadi instrumen untuk melaksanakan akal jiwanya (’aql), yang bersumber dari qalb.
Diri kita yang jasadiyah ini seharusnya cukup menjadi instrumen bagi diri sejatinya (jiwa/nafs) dalam melaksanakan tugasnya di dunia ini.
Comment by Herry — Wednesday, April 4, 2007 @ 14:17
7. ASWW :untuk memahami Al qura’n harus disertai amal perbuatan coba tafakuri ayat-ayat dibawah ini tq
Aku berlindung kepada-Mu ya Allah dari godaan syaiton yang terkutuk
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang
Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran , maka adakah orang yang mengambil pelajaran..???
Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran , maka adakah orang yang mengambil pelajaran..???
Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran , maka adakah orang yang mengambil pelajaran..???
Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran , maka adakah orang yang mengambil pelajaran..???
( Qur’an Surat Al Qamar ayat 17,22,32,40 )
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah
( Al Qur’an ), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih.( QS16/An Nahl ayat 104 )
1. Apa Al Qur’an itu ?
Al Qur’an adalah Kitab Suci dari Allah S.w.t. untuk seluruh umat manusia dan alam semesta. yang di wahyukan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhamad S.a.w .(QS 26 / Asy Syu’Araa’) ayat 192,193,194,195 (QS 04/An Nisaa’) ayat 82.
. (QS 26 / Asy Syu’Araa’) ayat 192,193,194,195
192. Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,
193. dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril),
194. ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,
195. dengan bahasa Arab yang jelas

(QS 04/ An Nisaa’ ) ayat 82
82. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan
yang banyak di dalamnya.
2. Bahasa apakah yang dipergunakan dalam Al Qur’an ?
Bahasa Al Qur’an adalah bahasa Arab yang Jelas dan sangat baik (QS 26/Asyu’araa’ ayat 195; ( QS12/ Yusuf) ayat 1,2 ( QS43/AZ Zukhruf ) ayat 1,2,3
( QS16/An Nahl ) ayat 103,104
(QS26/Asyu’araa’) ayat 195
195. dengan bahasa Arab yang jelas. ( baca dari mulai ayat 192 !!! )
(QS 12/ YUSUF ) ayat 1,2
1. Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat kitab (Al Qur’an) yang nyata (dari Allah).
2. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.
(QS43/Az Zukhruf ) ayat 1,2,3
1. Haa Miim.
2. Demi Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan.
3. Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami (nya).
( Qs16/ An Nahl ) ayat 103,104
103. Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya Al Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa `Ajam, sedang Al Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang.
104. Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah
(Al Qur’an), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih.
3. Mengapa Al Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab ?
Karena Nabi Muhammad S.A.W adalah : orang Arab , berbahasa Arab dan Kaum yang diperingatkan pada sa’at itu berbahasa Arab.
(QS 41/ Fush Shilat ayat 44 ; QS14/Ibrahim ayat 4; QS20/At Thaahaa ayat 2 ,QS44/Ad Dukhan ayat 58; QS19/Mariam ayat 97; QS 54 / Al Qamar ayat 17,22,32,40 )
(QS41/Fush Shilat) ayat 44
44. Dan jikalau Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?”. Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh”.
( Qs 14/ Ibrahim ) ayat 4
4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
( QS44/ Ad Dukhaan) ayat 58
58. Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran
( QS 19/ Mariam ) ayat 97
97. Maka Sesungguhnya telah kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu , agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Qur’an itu kepada orang – orang yang bertakwa , dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.
( QS 54/ Al Qamar ) ayat 17,22, 32, 40
17. Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?
22. Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?
32. Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?
40. Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?
(QS 07 / Al Araaf ) ayat 179
179. Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
4. Bagaimana isi Al Qur’an ?
Al Qur’an terdiri dari 2 ( dua ) kelompok ayat yaitu:
a. Ayat-ayat Mukhamat, yaitu : ayat – ayat yang pengertiannya jelas dan merupakan pokok – pokok isi Al Qur’an.
b. Ayat – ayat Mutasyabihat, yaitu : ayat-ayat yang pengertiannya harus diuraikan terlebih dahulu oleh para ahlinya. ( Q3/Ali ‘Imran ayat 7 )
Catatan : Kita harus memaklumi bahwa pada ayat-ayat Al-Qur’an ;mengandung hikmah, penuh dengan hikmah dan banyak ungkapan-ungkapan. (Q18./Al Kahfi) ayat 54 (Q 10/Yunus) ayat 1, (Q36/Yaasiin) ayat 2
( QS3/Ali ‘Imran ) ayat 7
7. Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
(QS18/Al Kahfi )ayat 54
54. Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.
(QS10/Yunus ) ayat 1
1. Alif Laam Raa. Inilah ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung hikmah.
(QS36/Yasin) ayat 2
2. Demi Al Qur’an yang penuh hikmah,
5. Apa tujuan diturunkan-Nya Al Qur’an ?
Al Qur’an diturunkan agar manusia sejahtra ( selamat ) di dunia dan akhirat,
(QS 19 / Maryam ) ayat 15,33 dan :
a. Sebagai Rahmat untuk alam semesta.
b. Sebagai Berita Gembira dan Peringatan untuk Manusia dan alam semesta
c. Sebagai Petunjuk untuk orang yang bertaqwa
d. Sebagai Pemisah antara yang hak dan yang bathil
e. Dsb.
( Q3/Ali’Imran ayat 138, Q45/Al Jaatiyah ayat 20, Q68/Al Qalam ayat 52, QS 86/ Ath Thariq ayat 13 .dll cari sendiri !! )
(QS 19 / Maryam ) ayat 15,33
15. Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.
33. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.
(QS03/Ali’Imran) ayat 138
138. (Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
(QS45/Al Jaatsiyah) ayat 20
20. Al Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.
(QS68/Al Qalam) ayat 52
52. Dan Al Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat.
(QS 86 /Ath Thaariq ) ayat 13
13. sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil,
6. Supaya sesuai dengan tujuan-Nya harus diapakan Al Qur’an itu ?
Al Qur’an harus di Baca, di Mengerti, di Pahami dan di Amalkan
Untuk dapat Membaca ,Mengerti dan Memahami Al Qur’an ada beberapa cara diantaranya 3 ( tiga ) cara yaitu :
a. Belajar Baca Tulis Al Qur’an dan belajar Tata bahasa Arab
( Nahu,Sorof dsb)
b. Membaca , Mengerti dan Memahami dalam bahasa yang dimengerti
( Indonesia , Jawa, Sunda, China Dsb ).
c. Bertanya kepada yang ahlinya.
(QS 96 / Al Alaq ayat 1;QS14/Ibrahim ayat 4, ,QS44/Ad Dukhan ayat 58,QS19/Mariam ayat 97).
( QS 96 / Al Alaq ) ayat 1
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
(QS 29 / Al Ankabuut ) ayat 45
45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
( Qs 14/ Ibrahim ) ayat 4
4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
( QS44/ Ad Dukhaan) ayat 58
58. Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran.
( QS 19/ Mariam ) ayat 97
97. Maka Sesungguhnya telah kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu , agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Qur’an itu kepada orang – orang yang bertakwa , dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.
7. Kapankah waktunya yang tepat untuk membaca ( mengkaji ) Al Qur’an ?
Waktu yang tepat untuk membaca Al Qur’an hanya masing-masing pembacanyalah yang paling paham karena di sesuaikan dengan keadaannya masing- masing , akan tetapi apabila kita ingin menghayati dan mencermati , dan mendapatkan hikmah-Nya , Allah menyuruh kita untuk membaca ( mengkaji ) di sa’at ½ atau 1/3 malam terakhir.(QS 73 / Al Muzzammil ) ayat 1- 9 dan ayat 20.
(QS 73/ Al Muzzammil ) ayat 1 s/d ayat 9
1. Hai orang yang berselimut (Muhammad),
2. bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),
3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit,
4. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan.
5. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.
6. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.
7. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).
8. Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.
9. (Dia-lah) Tuhan masyriq dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.
8. Surat atau ayat apa yang harus dibaca dan didahulukan ?
Mengenai ayat atau surat apa yang harus dibaca kita di sarankan untuk membaca dan mengahayati ayat – ayat yang mudah dan jelas ,dalam hal ini kita bisa memilih sesuai dengan kemampuan kita masing – masing.
(QS 03/ Ali Imran ) ayat 7 dan ( QS 73/ Al Muzzammil ) ayat 20.
(QS 73/ Al Muzzammil ) ayat 20
20. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
9. Bagaimana tata cara (Adab) membaca ( mengkaji / memahami ) Al Qur’an supaya kita mendapatkan Hikmah -Nya ?
a. Berwudhu ( QS.56/ Al Waaqi’ah) ayat 77-79
b. Sebelum membaca Al Qur’an kita harus meminta perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk ( Ta’ud ) A’udzubillaahiminas syaithonirroojim. ( QS16/An Nahl ayat 98 )
c. Kemudian membaca Asma Allah ( Bismillaahirrohmaanirrohiim ).( QS 96/ Al ‘Alaq )ayat 1
d. Al Qur’an harus dibaca perlahan – lahan, tidak tergesa-gesa ( kecepatannya bukan suaranya ) , dan berdo’a Ya Tuhanku tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan ( QS 73/Al Muzzammil ayat 4, QS 20/Thaahaa ayat 114 ).
e. Di baca dalam bahasa yang dimengerti atau dipahami dengan jelas.
(QS14/Ibrahim ayat 4,QS19/Mariam ayat 97 dan QS 44/Ad Dukhaan ayat 58).
f. Adapun yang memasukan hikmahnya kedalam dada orang yang membaca dan mengamalkannya adalah Allah.( QS 75/Al Qiyamaah ayat 16,17,18,19).
g. Dan yang memberikan pengertian kepada yang membaca dan mengamalkannya adalah Allah. ( QS 75 /Al Qiyamaah ayat 16,17,18,19).
h. Selama membaca ( mengkaji, memahami dan mengamalkan ) Al Qur’an harus menggunakan Akal ( QS 10 / Yunus ) ayat 100.
i. Pada pelaksanaannnya kontrol diri kita agar tidak mengatakan / menyuruh apa yang kita sendiri tidak / belum melaksanakannya ( QS 61 / Ash Shaff ) ayat 2 dan 3.
a. Berwudhu ( Qs.56/ Al Waaqi’ah) ayat 77-79
(Qs.56/Al Waqi’ah ) ayat 77-79
77. sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia,
78. pada kitab yang terpelihara ( Lauh Mahfuzh )
79. tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.
b. Sebelum membaca Al Qur’an kita harus meminta perlindungan kepada
Allah dari godaan syaitan yang terkutuk ( Ta’ud ) (Q16/An Nahl ayat 98)
( QS16/ An Nahl ) ayat 98
98. Apabila kamu membaca Al Qur’an , hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.
c. Kemudian membaca Asma Allah (QS 96/ Al ‘Alaq ayat 1)
( QS 96/ Al ‘Alaq ) ayat 1
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan
d. Al Qur’an harus dibaca perlahan – lahan, tidak tergesa-gesa ( kecepatannya
bukan suaranya ) .( Q73/Al Muzzammil ayat 4, Q20/Thaahaa ayat 114 ).
( QS 73/ Al Muzzammil ) ayat 4
4. atau lebih seperdua itu. Dan Bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan – lahan.
(QS20/ Thaahaa ) ayat 114
114. Maka Maha Tinggi Allah Raja yang sebenar - benarnya dan janganlah
kamu tergesa - gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan
mewahyukannya kepadamu dan katakanlah:” Ya Tuhan tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”
e. Di baca dalam bahasa yang dimengerti atau dipahami dengan jelas.
(Q14/Ibrahim ayat 4,Q19/Mariam ayat 97 dan Q44/Ad Dukhaan ayat 58).
( QS 14/ IBRAHIM ) ayat 4
4. Kami tidak mengutus seorang Rasulpun , melainkan dengan bahasa kaumnya , supaya dia dapat memberikan penjelasan dengan terang kepada mereka . Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki , dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki . Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
( QS 19/ Mariam ) ayat 97
97. Maka Sesungguhnya telah kami mudahkan Al Qur’an itu dengan
bahasamu , agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Qur’an itu kepada orang – orang yang bertakwa , dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.
( Q44/ Ad Dukhaan) ayat 58
58. Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu supaya
mereka mendapat pelajaran
f. Adapun yang memasukan hikmah dan pengertiannya kedalam dada orang
yang membaca dan mengamalkannya adalah Allah.
( Q75/Al Qiyamaah ayat 16,17,18,19).
(QS75/Al Qiyamah) ayat 16.17,18,19
16. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya.
17. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
18. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
19. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.
(QS 10 / Yunus ) ayat 100
100. Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.
( QS 61 / Ash Shaff ) ayat 2 – 3
2. Hai Orang – orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak perbuat ?
3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa -apa yang tiada kamu kerjakan.
Hindari pengkultusan pribadi
( QS03 / Ali ‘Imron ) ayat 79
Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab,Hikmah dan Kenabian, lalu ia berkata kepada manusia:”Hendaklah kamu menjadi penyembahku bukan penyembah Allah.”akan tetapi ( dia berkata ):”Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”
Memohon dan Kembalilah hanya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Qs3/Ali ‘Imran ayat 53
Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti Rasul , karena itu masukanlah kami kedalam golongan orang-orang yang menjadi saksi ( tentang ke Esaan Allah ). Aamien.
***************************************
Wahai saudara-sadaraku hamba Allah marilah kita sama-sama kembali kepada ridho dan rahmat –Nya. Baca dan pelajari lah Al Qur’an dengan bahasa yang dimengerti , mulailah dengan ayat-ayat mukhamat dan yang mudah menurut ukuran pembaca.
Kita akan mendapatkan hikmah dari Al Qur’an apabila kita melaksanakan ayat yang dibaca serta mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya .
Perintah-Nya adalah : Jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, berbuat baik terhadap kedua orang tua, Fakir miskin, Yatim, yatim piatu, kaum kerabat , ibnu sabil, tetangga dekat dan tetangga jauh.
Hindari : Iri, dengki , fitnah ,merusak, permusuhan, judi, perjinahan minuman / makanan yang memabukan dsb. Karena sifat tersebut adalah sifat Iblis yang terkutuk dan sudah berjanji dihadapan Allah untuk menyesatkan Manusia.
Kita harus menyadari bahwa Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang berbeda-beda (QS Ad Dzariat ayat 4 ):Jenis kelamin, status sosial, bangsa, bahasa , adat istiadat, pendapat , warna kulit dsb.
Jadikanlah perbedaan tersebut sebagai rahmat-Nya.
Kewajiban Rasul, Nabi ,saya dan saudara-saudara sekalian adalah melaksanakan perintah-Nya dan menyampaikan firman-firman-Nya
Dan yang harus selalu diingat janganlah menyuruh orang lain berbuat kebaikan sebelum kita melaksanakannya.agar kita terhindar dari murka-Nya.
Tujuan tulisan singkat ini di buat untuk mencari ridho-Nya dan sebagai sasaran antara sebelum kita semua mengerti dan memahami Al Qur’an dalam bahasa aslinya agar kita mempunyai gambaran yang jelas apa Al Qur’an itu ? .dari Allah ( yang tertulis dalam Al Qur’an ). Sehingga dalam pelaksanaan ritual ibadah yang terdapat dalam Sunnah Rasul dan Hadist – Hadist Nabi hati kita menjadi lebih khusyu.
( Kami menyarankan untuk membaca Tafsir Al Qur’an terbitan DEPAG .RI. karena hasil terjemahan 10 orang tokoh agama yang menurut kami sangat ahli dibidangnya.dan disertai referensi Hadist-Hadist dan Tafsir yang bisa dipertanggung jawabkan , atau CD Holy Qur’an versi 6.5 Dan kamipun sangat menyadari bahwa tiap ayat-ayat Al Qur’an penuh dengan pengertian dan hikmah , dan Allah lah yang memasukan hikmah tersebut kepada orang yang dikehendaki-Nya.
Akhir kata kami meminta ma’af apabila dalam tulisan singkat ini ada kesalahan. Kami mengharapkan penyempurnaan dari saudara – saudara / hamba-hamba yang dimulyakan Allah yang lebih paham dan mohon dilengkapi dengan hadist-hadistnya Dan semoga kita semua menjadi orang-orang Rabbani. Aammien
Catatan : Dengan Segala Kerendahan Hati apabila pada tulisan ini mengandung hal hal yang menjurus kepada pendapat pribadi penulis mohon untuk tidak di perselisihkan, akan tetapi penulis hanya menyampaikan firman – firman Allah S.w.t. dan mencermatinya yang merupakan kewajiban kita semua .
Dengan kata lain Jangan dilihat siapa yang menulis dan kearah mana penulis maksudkan , akan tetapi bacalah ( Kaji, Hayati dan Amalkan ) sebagian ayat – ayat Al Qur’an tersebut ( ayat – ayat tersebut termasuk ayat Mukhamat yaitu ayat yang jelas dan mudah di mengerti ) mudah – mudahan hati kita tergerak untuk biasa membaca ( Mengkaji, menghayati dan mengamalkan ) keseluruhan ayat – ayat Al Qur’an.
Adapun kesimpulam akhir ( Hikmahnya ) pembacalah yang lebih paham sesuai dengan amalan- amalan yang dilakukan , pola pikir, latar belakang pendidikan dsb. Wallahu Alam
Wasalamu’alaikum .
Penulis
Dedi Jukardi
Jl : Jl.Bumi Asih No.21-23
Komplek Santosa Asih Jaya
Rancasari – Bandung 40292
Tlp.(022) -7506664-7507414 Hp.08122182894
Comment by DEDI JUKARDI — Sunday, April 8, 2007 @ 21:28
8. TANYA
Mas Herry, saya mau tanya: Kapan seseorang dikatakan tuntas agamanya? terimakasih
Comment by Rageh — Monday, April 16, 2007 @ 23:02
9. Soalan yang baik. Mari fikir bersama-sama.
Semua soalan akan terjawab apabila kita melalui tertib yang sama sepertimana mereka yang yang telah mendapat anugerah Radhiallhuanhum dari Allah SWT iaitu sahabat-sahabat Nabi SAW.
Contoh.
Seorang petani yang berusaha menanam sayuran. Mulanya tanah di bersihkan, pokok di tebang, rumput diracun, tanah digemburkan. Kemudian benih disemai, disiram dan dijaga sehingga besar. Akhirnya barulah dapat hasilnya.
Seorang lagi belajar semua cara-cara menanam dari mula hingga akhir tetapi tidak membuat usaha mananam sayuran.
Disini didapati kedua-dua mempunyai pengetahuan mananam sayuran tetapi petani lebih memahami susah senang menanam sayuran. Maka terdapat perbezaan diantara yang tahu dan yang faham.
Kefahaman akan diperolehi apabila kita berusaha mengikut tertib yang sama dengan mengorbankan diri, harta dan masa.
Contoh.
Sekiranya kita hendak membuat kek. Kita mesti mengikut tertib dan peraturan cara membuatnya. Jika tidak, kek yang kita masak tidak akan menjadi seperti yang kita hajatkan.
Agama islam hanya satu dan usaha agama hanya satu iaitu cara Nabi SAW.
Sudah tentu terdapat perbezaan kefamahan mengenai beras/padi antara seorang yang hari-hari makan nasi dengan seorang yang hari-hari buat usaha mananam padi.
Comment by harry — Wednesday, May 9, 2007 @ 10:17
10. ikutan share yaa…
kenapa urutan ayat-ayat Al quran [kesannya] tidak berurutan ?
saya setuju dengan semua pendapat diatas, saya juga mau nambahin, bahwa itulah salah satu ‘rahasia’ dari Al quran….
ada ayat-ayat yg maknanya tidak akan pernah tertangkap oleh pemikiran logika manusia secanggih apapun tanpa ijin-Nya. Kalo ndak salah ayat-ayat itu disebut ayat-ayat Mutasyabih.
Dan ada juga urut-urutan ayat Al quran yg kesannya tidak teratur dan [nyaris] tidak bisa dicerna oleh akal. Urut-urutan ayat-ayat itu [mungkin] bisa disebut juga sbg urut-urutan Mutasyabih. Alias tidak mampu kita cerna tanpa ijin-Nya.
Hehehe… maaf ya, saya cuma ‘ngarang’ doank, alias menjawab dg asal-asalan…..
tapi menurut pengalaman saya dalam membaca Al quran [maksudnya terjemahannya …] memang sih awalnya saya bingung, tapi kemudian saya pakai trik tafsir versi saya sendiri, eh, malah nyambung dari satu ayat ke ayat berikutnya. Malah, saya jadi banyak tahu mengenai hal-hal baru khususnya mengenai masalah keimanan saya. Sekarang saya baru sadar, ternyata Al quran memang hebat, bahkan sangat hebat…!!!
Note: Tentu saja, saya menfasirkannya dg bimbingan seorang Mursyid. Soalnya takut sesat…:)
Comment by rachman_ — Wednesday, May 23, 2007 @ 05:15
11. Assalamu ‘alaikum wr.wb.
Komentar saya tentang bagaimana orang seharusnya memahami Al Qur’an itu saya coba sarikan dari apa yang Guru saya Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad Attamimi ajarkan, yaitu sebenarnya Allah SWT menurunkan Al Quran itu ada dua macam : Quran Tekstual (kitabnya sendiri) dan Quran Hidup (Orang Allah, ahlillah) yang menjadi pelaksana pertama dari Al Quran itu.
Saya ingat ada hadits dari Siti Aisyah yang menjawab pertanyaan dari Para Sahabat tentang akhlak Rasulullah, jawabannya ternyata simpel “Akhlak Rasulullah itu adalah Al Qur’an”. Rasulullah lah Al Quran hidup. Kalau Para Sahabat ingin tahu seperti apa Al Qur’an itu bisa diimplementasikan, Para Sahabat cukup melihat Rasulullah saja.
Di waktu masih ada Nabi dan Rasul, Qur’an hidupnya adalah Nabi dan Rasul. Di zaman diturunkannya Taurat, Taurat hidupnya adalah Nabi Musa AS. Di zaman diturunkannya Qur’an, maka Rasulullah SAW lah Qur’an hidup nya. Di zaman ini, dimana tidak ada lagi Nabi, maka Guru-guru mursyid dan mujaddid lah Qur’an hidupnya. Ada sedikit tulisan tentang hal ini di http://kawansejati.ee.itb.ac.id/node/15954.
Satu hal lagi, kalaulah semua orang harus pandai baca Al Qur’an dan faham bahasa Arab, bagaimana dengan orang bukan Arab yang baru masuk Islam ? Apakah semua orang harus memahami Al Qur’an seperti Guru-guru mursyid ? Tidak akan mampu. Maka Tuhan jadikan Islam itu mudah dengan adanya keberkatan seorang pemimpin, seorang guru yang kenalkan kehidupan kita dengan Al Islam. Pemimpin inilah penerjemah, penafsir dan orang yang mempraktekkan Al Qur’an sehingga Al Qur’an bisa di cerna dan dipraktekkan oleh orang-orang biasa seperti kita, tanpa kita merasa ditarik-tarik dan dipaksa-paksa. Tulisan lengkap tentang hal ini ada di http://affanzbasalamah.wordpress.com/2007/01/05/islam-itu-mudah/
Mudah-mudahan berguna,
wass.wr.wb.
Comment by Affan — Friday, May 25, 2007 @ 19:55
12. Assalamualaikum, Wr.Wb
Saudara Wisnu.
Setiap penciptaan sesuatu pasti ada tujuan dibalik hal tersebut.
Begitu juga setiap pertanyaan memerlukan jawaban.
tapi apakah hal itu dapat memuaskan penerimanya, yang diciptakan atau yang mendaptkan jawaban.
Saran saya, anda tidak dapat mempelajari isi dan kandungan Al Qur’an secara sendiri. Sebaiknya anda carilah seorang guru yang menguasai atau faham dengan wawasan yang luas.
Karena setiap surah dan ayat, mempunya 2 makna:
1. Tersurat.
2. Tersirat.
Mungkin anda dapat mempelajari makna tersurat dari tafsir yang banyak ditemui di toko buku.
Tetapi utuk makna tersirat anda memerlukan seorang guru yang wawasan dan fahamnya luas.
Kenapa hal ini diperlukan ???
Tujuannya untuk menghindarkan anda dari kekeliruan, dan salah menafsirkan.
Ini saja yang dapat saya sarankan pada anda, mudah-mudahan anda mendapatkan petunjuk dari Allah dan diberi kefahaman yang luas.
Amin
Comment by agustinus — Saturday, June 30, 2007 @ 10:30
13. walaupun al quran [kesannya] tidak beraturan, tapi kalau terus dicoba untuk direnungi, eh, lama-lama hati jadi tentram… al quran memang ajaib …

Renungan

Makna ‘Kafir’ dan ‘Syuhada’ : ‘Kafir’ Tidak Dengan Sendirinya Berarti Orang Yang Tidak Beragama Islam
Posted by Herry @ 21:41 | in Artikel, Pengetahuan Islam Dasar, Renungan, Kolom | e-mail this article | + to del.icio.us
Herry Mardian, Yayasan Islam Paramartha.
Sahabat sekalian, sering sekali kita menyebut orang yang tidak beragama Islam sebagai ‘kafir’. Itu yang diajarkan sejak kecil pada kita. Dan makna yang tidak tepat ini turun temurun diwariskan dari generasi ke generasi, pada akhirnya kita menerimanya dengan taken for granted saja, dan tidak memeriksa lagi kebenarannya.
Seandainya kita mau membuka Al-Qur’an dan mencari definisi qur’aniyahnya, maka akan kita temukan bahwa makna kata ‘kafir’ sebenarnya sama sekali tidak terkait dengan perbedaan agama secara langsung.

A. Makna ‘Kafir’
Mari kita buka Al-Qur’an. Kita biasakan mencari definisi qur’aniyah dari segala istilah agama yang kita kenal. Dengan demikian, kita akan terbiasa untuk membuka Al-Qur’an dan pelan-pelan Insya Allah kita akan merasakan Al-Qur’an benar-benar berfungsi bagi kehidupan kita. Kita belajar untuk memahami agama ini, bukan sekedar menghafal dalil-dalil agama yang belum tentu benar, apa lagi menggunakannya untuk, misalnya, mendebat orang lain. Ini tentu bukan hal yang baik.

Definisi qur’aniyyah dari kata ‘orang kafir’, bisa kita temukan di surat Al-Kahfi ayat 100 dan 101.



Q.S. 18:100, “dan Kami tampakkan Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir (Al-Kafiriin) dengan jelas.”
Q.S. 18:101, “yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari ‘zikri’ (diterjemahkan di terjemahan qur’an bahasa Indonesia dengan kata ‘memperhatikan’) terhadap tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.”
Dari dua ayat di atas, kita dapatkan definisi qur’aniyyah dari kata ‘kafir’. Al-Kafiriin, atau orang-orang kafir, adalah mereka yang matanya tertutup dari ‘zikri’ terhadap tanda-tanda kebesaran Allah, dan telinganya tidak sanggup mendengar.
Jika demikian, apakah orang yang kebetulan ketika lanjut usia ia menjadi tuli atau menjadi buta karena usia tua, apakah ia berarti ditakdirkan akan mati dalam keadaan kafir? Atau, jika seseorang kebetulan ditakdirkan tuli atau buta sejak lahir, apakah artinya ia ditakdirkan untuk hidup sebagai orang kafir? Sebab sama sekali bukan keinginannya untuk dilahirkan sebagai orang buta atau tuli. Apakah Allah menakdrkannya kafir karena kebetulan lahir sebagai orang tuli atau buta?
Tentu jawabannya tidak. Semua orang, termasuk mereka yang buta atau tuli, diberi-Nya kesempatan untuk mati kelak dalam keadaan diridhoi-Nya.
Jika demikian, mata dan telinga mana yang tertutup?
Jawabannya bisa kita dapatkan pada Al-Qur’an surat Al-Hajj (22) ayat 46.

Q.S. 22:46, “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah qalb-qalb mereka (quluubun) yang ada di dalam dada.”
Dari definisi Qur’an tersebut, yang disebut ‘kafir’ bukanlah orang yang berbeda agama. Yang disebut kafir adalah mereka yang mata dan telinga qalb di dalam dadanya tidak berfungsi. Asal kata ‘kafir’ dan ‘kufur’ adalah ‘kafara’ yang artinya ‘tertutup’ (kata ini jkemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi ‘cover’ artinya penutup). ‘Kafir’ adalah mereka masih yang tertutup dari ‘Al-Haqq’ (kebenaran mutlak).
Mata dan telinga yang di dalam dada, maksudnya adalah mata dan telinga yang adanya bukan pada level jasad kita, tapi lebih dalam lagi. Mata dan telinga yang dimaksud adalah mata dan telinga yang ada dalam qalb kita, dalam dada/shuduur, yang ada pada level jiwa (nafs). Shuduur artinya ‘dada spiritual’, sebagaimana hati yang biasa kita kenal bukanlah liver maupun jantung, tapi lebih kepada ‘hati spiritual’ seperti nurani.
Jiwa atau nafs itu, jiwa yang mana? Kita mengetahui, bahwa ada tiga unsur yang dipersatukan dalam membentuk satu manusia yang hidup, yaitu Ruh, Nafs (jiwa), dan Jasad. Jiwa inilah, yang diabadikan dalam Q.S. 7:172, yang dahulu sekali disumpah di hadapan Allah untuk menjadi saksi (syahid, perhatikan kata bahasa arabnya: syahidna, kami bersaksi) mengenai siapakah Rabb mereka.

Q.S. 7:172, “Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap nafs-nafs (jiwa-jiwa, anfusihim) mereka: “Bukankah aku ini Rabb-mu?” Mereka menjawab, “Betul, kami bersaksi (syahidna)”.
Nafs, atau jiwa, inilah yang diminta persaksiannya dahulu, dan kelak akan diminta pertanggungan jawabnya ketika mati. Sementara pada saat itu jasad kita terurai menjadi tanah, dan ruh kita yang menjadi daya hidup bagi jasad (fungsinya mirip seperti energi yang ada pada baterai) kembali pada-Nya. Kita tidak mengetahui apa-apa tentang ruh, karena ruh adalah urusan Allah. Disebutkan dalam Q.S. 17 : 85, “Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan (tentangnya) melainkan sedikit.”
Dengan demikian, barangsiapa yang mata dan telinga yang ada dalam dadanya ini belum berfungsi, pada dasarnya ia masih ‘kafir’, atau tertutup. Ia tidak akan bisa memahami petunjuk Allah, karena petunjuk Allah diturunkan bukan ke telinga dan mata jasad kita, tapi ke ‘mata dan telinga’ qalb pada level jiwa (nafs) kita.
Dasar dari hal ini bisa kita lihat dalam surat At-Taghabuun ayat 11:

Q.S. 64:11, “… Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada qalb nya (di terjemahan qur’an ditulis: ‘kepada hatinya’).”
Dan, barangsiapa yang mata dan telinga dalam dadanya belum berfungsi, dia tidak akan mampu memahami Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya, karena Al-Qur’an sebenarnya bukan untuk dihafal dalam otak. Sebagaimana yang dialami Rasulullah, Al-Qur’an diturunkan ke dalam dadanya. Rasulullah seorang yang buta huruf, tapi bagaimana Beliau saw. bisa memahami Al-Qur’an hingga ke hakikat terdalamnya? Karena Al-Qur’an seharusnya, dan sesungguhnya, ada dalam dada, bukan dalam kepala.

Q.S. 29:49, “Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang nyata dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.”
Al-Qur’an dalam dada (qalb di dalam shuduur/dada) kita inilah yang akan kita bawa hingga ke akhirat kelak, dan bukan Al-Qur’an yang dihafalkan dalam kepala. Ketika mati kelak, otak kita dan segala apa yang ada dalam kepala kita akan hancur menjadi tanah. Kita harus memahami dengan hati hingga ke tingkat makna dan hakikatnya, bukan sekedar menghafalkan dalil-dalil Qur’ani di kepala.
Dari data-data di atas, maka bisa kita pahami makna ‘kafir’. Kata ‘kafir’ bukan berarti mereka yang tidak beragama Islam. ‘Kafir’ adalah mereka yang telinga dan mata dalam dadanya belum berfungsi, sehingga tertutup dari Al-Haqq (kebenaran mutlak, kebenaran Ilahiyah). Dengan demikian, bahkan saya sendiri masih kafir karena mata dan telinga jiwa saya belum berfungsi dengan baik, belum sempurna dalam melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, dan belum memahami Al-Qur’an dengan sempurna.
Untuk memperkuat bahwa makna ‘kafir’ sebenarnya ada dalam konteks ketertutupan qalb dan tidak secara langsung terkait dengan perbedaan agama, kita lihat lagi dua ayat berikut yang sangat terkenal:
Q.S. Al-Baqarah (2) : 6 - 7,



“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman [6].”
“Allah telah mengunci mati hati (qalb-qalb, quluubihim) dan pendengaran mereka, dan pengelihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat [7].”
Sayang dua ayat di atas sering dijadikan dalil untuk bersikap kurang bersahabat terhadap saudara kita yang beragama lain. Padahal, seandainya kita lebih teliti lagi, kata ‘kafir’ sebenarnya ada dalam konteks ketertutupan hati, bukan dalam konteks perbedaan agama.
Ayat ini sama sekali bukan rujukan supaya kita menunjukkan sikap tidak bersahabat pada saudara-saudara kita dari agama lain. Ayat ini justru memperkuat keterangan tadi, bahwa ‘kafir’ ada dalam konteks ketertutupan qalb, dan bukan dalam konteks perbedaan agama. Bukankah Allah menempatkan dua ayat ini secara berdampingan? Tentu ini sama sekali bukan kebetulan yang tanpa makna. ‘Kafir’ adalah sebuah kondisi (ruhaniyyah) tentang qalb, bukan status (keagamaan).
Jadi, secara sederhana bisa kita katakan bahwa orang kafir adalah orang yang qalb-nya masih tertutup dari Al-Haqq (kebenaran ilahiyah), dan tidak secara langsung terkait dengan orang-orang yang tidak beragama Islam.
Kondisi kafir sendiri bertingkat-tingkat, dari yang sama sekali tidak bisa memahami Al-Haqq, sedikit memahami, agak memahami, cukup memahami, dan seterusnya. Kadar kekufuran seseorang berbeda-beda, tergantung sejauh mana ia mampu memahami kebenaran (ilahiyyah). Kini semakin jelas bahwa kekafiran adalah sebuah kondisi, bukan status.
Karena saya sendiri masih kafir (atau masih banyak kekufuran yang ada dalam diri saya), jelas tidak ada gunanya bagi saya untuk menyebut orang lain, atau orang yang tidak beragama Islam, sebagai orang kafir. Hal ini tidak akan menambah kebaikan apapun bagi diri saya, bahkan justru akan menambah dosa saja.
Apakah orang yang tidak beragama Islam semuanya tidak beriman, semuanya laknatullah, atau semuanya ahli neraka? Belum tentu. Kita harus berhati-hati sekali karena ada ayat-ayat ini dalam Al-Qur’an.

Q.S. 3:199, “Dan sesungguhnya di antara para ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan kepada mereka, sedang mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Rabb-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungannya.”



Q.S. 3:113, “Mereka itu tidak sama; di antara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud.” Q.S.3:114, “Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar, dan bersegera kepada mengerjakan kebaikan. Mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.”
Dan yang membuat kita harus lebih berhati-hati lagi, camkanlah bahwa tidak semua orang yang ber-Islam dengan sendirinya telah beriman. Kita perhatikan ayat berikut ini:

Q. S. 49 : 14, “Orang-orang Arab (badui) itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah ber-Islam’ (perhatikan teks Qur’an-nya: ‘aslamna’ artinya ‘kami telah berserah diri’, di terjemahan Indonesia menjadi ‘kami telah tunduk’), karena iman itu belum masuk ke dalam qalb-qalb mu (quluubikum)…”
Perhatikanlah pada ayat di atas, bahwa beriman hingga masuk ke hati itu setingkat di atas tingkatan Islam. Dengan demikian, bisa jadi seseorang telah ber-Islam, tapi belum tentu dia memiliki iman.
Jadi menurut saya, mengatakan kafir pada orang lain meskipun mudah di lidah, bisa jadi merupakan hal yang beresiko besar untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala kelak. Di sisi lain, kita tidak perlu marah jika seandainya dihujat sebagai kafir, karena sangat mungkin memang masih banyak kekufuran dalam diri kita ini.

B. Makna ‘Syuhada’
Kata ’syuhada’, dalam buku agama Islam di masa sekolah dasar saya dulu, maknanya diartikan sebagai orang yang gugur di medan perang melawan ‘musuh Islam’. Maka ketika dewasanya orang berlomba-lomba ingin berperang (atau membuat perangnya sendiri dan musuhnya sendiri) karena ingin mati sebagai syuhada, yang jaminannya adalah surga.
Ada sebuah hadits yang ‘menggelitik’:
“Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya”. (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).
Bagaimana mungkin mati di tempat tidur mendapatkan derajat kematian seperti seorang syuhada? Atau hadits berikut ini:
“Kebanyakan orang yang syahid dari ummatku, ialah mereka yang mati di tikar tidurnya. Dan banyak pula orang yang terbunuh di antara dua baris perang, yang Allah Maha Mengetahui apa niat sebenarnya”. (HR Ahmad dari Ibnu Mas’ud)
Bagaimana mungkin, sebagian besar syuhada justru meninggal di atas tempat tidurnya? Dan Rasulullah sendiri yang mengatakan hal ini.
Ini bisa kita pahami, jika kita teliti Al-Qur’an. Kata ’syuhada’, akar katanya sama dengan kata pada syahadat kita ‘Asyhadu’, artinya bersaksi, mempersaksikan dengan sepenuh kepercayaan, dengan sepenuh keyakinan (mengenai Tuhannya). Kata ’syuhada’ tidak semata-mata berarti orang yang mati di medan perang. Kata ’syuhada’ berarti ‘orang yang telah mempersaksikan (dengan sebenar-benarnya)’.
Di Al-Qur’an ayat 7 : 172 tadi, ketika Allah mengambil persaksian dari jiwa-jiwa manusia, kata yang dipakai adalah ‘Asyhadahum ala anfusihim’, mengambil persaksian atas jiwa-jiwa mereka. Dan jiwa-jiwa tersebut menjawab, ‘Qaalu, bala syahidna,” benar, sesungguhnya kami bersaksi.
Demikian pula kata yang sama (syuhada) dipakai dengan jelas di Q.S. Al-Hadiid ayat 19,

Q.S. 57:19, “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, mereka itu orang-orang Shiddiqiin dan ‘syuhada inda Rabbihim’ (menjadi saksi di sisi rabb mereka), bagi mereka pahala dan cahaya mereka…”
Maka jelas bahwa ’syuhada’ berarti orang yang mempersaksikan (kebenaran Ilahiyah). Menjadi syuhada tidak harus melalui peperangan. Seorang yang meninggal di atas tempat tidurnya pun bisa menjadi seorang syuhada, asal ia benar-benar memintanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.
Di zaman Rasulullah, mereka yang gugur ketika berniat mengorbankan jiwa mereka untuk Allah melalui jalan yang tersedia dan dibutuhkan ummat pada masa itu (berperang), yang pengorbanannya diterima oleh Allah, dianugerahi sebuah ‘penyaksian (akan kebenaran/Al-Haqq)’ melalui gugurnya mereka di medan perang. Namun demikian, belum tentu jalan pengorbanan yang paling dibutuhkan ummat pada setiap masa adalah berperang.
Dengan demikian, belum tentu setiap orang yang gugur di medan perang adalah ’syuhada’, jika pada saat kematiannya tidak dianugerahi sebuah penyaksian akan Al-Haqq. Juga hal ini berimplikasi bahwa banyak cara lain menjadi seorang ’syuhada’ selain melalui peperangan. Di atas semua itu, sudah tentu lebih bisa kita pahami sekarang mengapa orang yang telah berhasil menjadi seorang ’syuhada’ maka jaminannya adalah surga.
Semoga bermanfaat,
Herry Mardian,
17 Februari 2006.

All works above are licensed under
Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 License
«« Previous Post
'Gelisah Dalam Kehidupan'
Next Post »»
'Anyway…'

.:: TrackBack: Right click here and copy link for TrackBack URI ::.

:: RSS feed for comments to this post ::

43 Comments - (Give Comment) »
1. Saya sangat menyukai tulisan2 yg ada di blog ini dan sudah membacanya sejak masih di blogspot. Alhamdulillah, dengan membacanya saya lebih banyak mengerti tentang kebesaran Allah dan dapat memandang sesuatu dari angle yg berbeda walaupun saya sendiri masih kafir. Semoga blog ini terus ada supaya saudara-saudara kita mendapatkan kebaikan dengan membacanya. Amin.