EMANSIPASI WANITA DALAM ISLAM
Oleh : RIVANLI AZIS *
Berbicara tentang Emansipasi maka terlintas dalam pikiran kita adalah perjuangan seorang Kartini dalam menuntut hak-haknya.Gaung emansipasi sampai hari ini masih terasa.Banyak kalangan menilai emansipasi wanita dahulu diinterprestasikan secara emosional oleh wanita hari ini.Kaum feminis sampai hari ini memperjuang adanya kesetaraan gender.Artinya adanya persamaan hak antara Pria dan Wanita.Bahkan kalau perlu wanita berhak memimpin rumah tangga dan yang lebih aneh lagi Wanita yang memberikan mahar kepada Pria dalam sebuah pernikahan.Dan bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang emansipasi wanita ini.Dalam Al-Qur’an dinyatakan secara tegas :"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar".Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas ra bahwa ayat ini turun berkenaan dengan pertanyaan para wanita: “Mengapa dalam Al-Qur’an disebutkan para laki-laki sementara para wanita tidak?” Maka turunlah ayat ini.
Jauh Sebelum memproklamirkan emansipasi wanita, Islam telah lebih dahulu mengangkat derajat wanita dari masa pencampakan wanita di era jahiliah ke masa kemuliaan wanita. Dari ayat di atas kita bisa melihat betapa Islam tidak membedakan antara wanita dan laki-laki. Semua sama di hadapan Allah.swt, dan yang membedakan mereka di hadapan Allah adalah mereka yang paling bertaqwa, taqwa dalam artian menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
Sering kita dengar pemahaman emansipasi wanita yang selalu digembar-gemborkan orang-orang barat yang mengatasnamakan hak asasi manusia, bahwa emansipasi wanita adalah menyamakan hak dengan kaum pria, padahal tidak semua hak wanita harus disamakan dengan pria, karena Allah.Swt telah menciptakan masing-masing jenis kelamin dengan latar belakang biologis kodrati yang tidak sama. Persamaan hak untuk dilindungi oleh hukum, mendaptkan gaji yang setara dengan laki laki jika berada di kedudukan atau kemampuan yang sama, dan lain sebagainya adalah segelintir contoh dibolehkannya persamaan hak dengan kaum pria.
Makna emansipasi wanita yang benar, adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak memilih dan menentukan nasib sendiri. Sampai kini, mayoritas wanita Indonesia, terutama di daerah pedesaan dan sektor informal belum menyadari makna dari emansipasi wanita itu sendiri, akibat normatif terbelenggu persepsi etika, moral, dan hukum genderisme lingkungan sosio-kultural menjadi serba keliru. Belenggu budaya itulah yang harus didobrak gerakan perjuangan emansipasi wanita demi memperoleh hak asasi untuk memilih dan menentukan nasib sendiri.Perjuangan R.A. kartini dan R.Dewi Sartika dalam medobrak keterbelengguan pribumi oleh penjajah merupakan pergerakan yang spektakuler bagi wanita Indonesia saat itu. Sebuah perang dengan cara moderat tanpa adu kekuatan fisik, akan tapi adu otak, adu harga diri. Tak berselang lama kebangkitan harga diri pribumi mulai naik hingga kita sebut sebagai Zaman Kebangkitan Nasional, tidak hanya bangkit meruncingkan bambu, tapi juga meruncingkan pikiran, mengasah otak melalui kata-kata, baik di forum diskusi maupun di media cetak.
Di hari Kartini ini, mari kita meneropong kebelakang melihat kembali wanita-wanita yang berjaya pada awal-awal berdirinya Islam, mereka adalah Aisyah binti Abu Bakar(wafat 58 H), Hafsah binti Umar (wafat 45 H), Juwairiah binti Harits bin Abu Dhirar (wafat 56 H), Khadijah binti Khuwailid (wafat 3 SH), Maimunah binti Harits (wafat 50 H/670 M), Ummu Salamah (wafat 57 H/676 M), Zainab binti Jahsy (wafat 20 H), Fatimah binti Muhammad (wafat 11 H), Ummi Kultsum binti Muhammad (wafat 9 H/639 M), Zainab binti Muhammad (wafat 8 H.) dan lain sebagainya. Merekalah yang telah memberikan suri tauladan yang sangat mulia untuk keberlangsungan emansipasi wanita, bukan saja hak yang mereka minta akan tetapi kewajiban sebagai seorang wanita, istri,anak atau sahabat mereka ukir dengan begitu mulianya. Seperti telah disinggung di atas, dalam pandangan Islam wanita yang baik adalah wanita yang seoptimal mungkin menurut konsep al-qur’an dan assunnah. Ialah wanita yang mampu menyelaraskan fungsi, hak dan kewajibannya:
Seorang hamba Allah ( At-Taubah : 71 ),Seorang istri ( An-Nisa : 34)
Seorang ibu ( Al-Baqoroh : 233 ),Warga masyarakat (Al-furqan : 33),dan Da’iyah ( Ali Imran :104 -110).Islam juga telah mengabadikan nama wanita yang dalam bahasa Arab An-nisa (النساء) ke dalam salah satu surat dalam Al-quran, dan islam juga tidak melarang wanita untuk berperang atau berjihad di jalan Allah.Swt melawan orang-orang kafir, dalam hadits yang diriwayatkan oleh seorang sahabat wanita terkemuka Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz ra berkata :
“Kami pernah bersama nabi SAW dalam peperangan, kami bertugas memberi minum para prajurit, melayani mereka, mengobati yang terluka, dan mengantarkan yang terluka kembali ke Madinah.” Ummu Haram ra, yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra , dimana ia berkata:
“Nabi SAW bersabda : “Sejumlah orang dari ummatku menawarkan dirinya sebagai pasukan mujahid fi sabilillah. Mereka mengarungi permukaan lautan bagaikan raja-raja di atas singgasananya.” Lalu tiba-tiba Ummu Haram ra berkata: “Ya Rasulullah, doakan saya termasuk diantara mereka itu.” Lalu Nabi SAW mendoakannya…”
Sesungguhnya Maha Benar Allah yang dengan tegas bersabda dalam Al- Qur’an bahwa musuh-musuh Islam akan selalu berupaya dengan berbagai cara agar kita mengikuti millah (sistem hidup) mereka, hingga mereka ridha (QS Al-Baqarah: 120), dan mereka akan selalu memerangi Islam dan segala yang berbau Islam, kalau dapat memurtadkan kita dari Islam (Al-Baqoroh : 217 dan Alburuuj : 8). Sungguh Maha Benar Allah.Sesungguhnya fenomena muslimah hari ini (kebanyakan telah menyimpang jauh dari Allah dan RasuINya), dan kehilangan jati dirinya sebagai muslimah adalah hasil dari rekayasa mereka yang menghendaki ajaran Islam itu kabur, sulit difahami dan terkesan kolot (terbelakang) serta menghambat kemajuan.
Untuk mendukung semua itu merekapun merekayasa, para ‘cendekiawan muslim’ yang lemah iman untuk mendukung program mereka dan menimbulkan keragu-raguan ummat.Para wanita yang dalam Islam sangat dihormati dan dimuliakan digugat. Aturan-aturan Islam yang tinggi dan sempurna dituding sebagai biang keladi ‘terbelakangnya’ para wanita Islam. Musuh-musuh Allah yang lantang meneriakkan isu hak asasi, kebebasan, modernisasi, dan persamaan inipun menyerang masalah poligami,hak menthalaq, hak warisan, masalah hijab, dan sebagainya sebagai hal-hal yang melemahkan Islam. Islam dikatakan telah merendahkan harkat dan martabat wanita, sedangkan Barat lah yang mengangkat dan memuliakannya.
Mari kita bandingkan dunia Islam dan dunia Barat, pada satu sisi mereka maju di bidang duniawi yang pernah dimiliki kejayaan islam, tapi kita lihat hubungan – hubungan sosial mereka ( hubungan antara masyarakat, suami dan istri orang tua dan anak dan lain sebaginya ) Islam lebih gemilang dengan hal-hal itu.
Pada akhirnya kita sebagai wanita mulimah untuk selalu menyiapkan dan meningkatkan kualitas keislaman kita, agar kita tidak terpengaruh dengan slogan- slogan barat yang akan menghancurkan pilar-pilar Islam dan menyilaukan mata kita.
Selamat hari Kartini semoga wanita Indonesia bisa lebih meningkatkan khazanah keislamannya dan menghasilkan karya-karya besar untuk kemajuan Indonesia dan Islam pada umumnya.
*Penulis adalah PENERIMA BEASTUDI ETOS DOMPET DHUAFA REPUBLIKA dan sekarang masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Andalas.
Senin, 08 Desember 2008
Abstrak LKTI TNI ANGKATAN LAUT Dharma Samudera
STRATEGI PENGELOLAAN PULAU-PULAU KECIL TERLUAR OLEH INDONESIA SEBAGAI IMPLEMENTASI NEGARA KEPULAUAN
(Rivanli Azis,05140245,Fakultas Hukum,Universitas Andalas,65,2008)
ABSTRAK
Pada tanggal 17 desember 2002 merupakan momentum yang bersejarah bagi kedua negara yang bertetangga yaitu Indonesia dan Malaysia.Pada tanggal tersebut Mahkamah Internasional memutuskan bahwa Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan yang telah menjadi sengketa semenjak tahun 1969 dibawah kedaulatan Malaysia dengan dasar Effectivities Occupation terhadap kedua pulau tersebut.Sebagai Negara Kepulauan,lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan sangat berpengaruh kepada keutuhan wilayah Indonesia baik secara pertahanan dan keamanan,luas wilayah dan ekonomi-politik.Letak kedua pulau itu yang berada di depan batas terluar wilayah dengan negara tetangga Indonesiamemberikan posisi penting bagi keberadaannya.Sedangkan dalam Konvensi Hukum Laut III 1982 menyatakan bahwa Negara Kepulauan dalam menarik garis pangkal kepulauannya melalui titik-titik terluar yang menghubungkan pulau-pulau terluar untuk mengukur Laut Teritorial,Zona Tambahan,Zona Ekonomi Ekslusif,dan Landas Kontinen.
Dalam mencari jawaban dari permasalahan penulis menggunakan Metode Normatif yang menganalisa bahan-bahan hukum primer seperti Konvensi Hukum Laut III 1982,Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia,Peraturan Presiden Nomor 78 tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau Pulau Kecil Terluar dan Peraturan Perundang-Undangan lainnya yang berkaitan dengan Permasalahan.Dan bahan hukum sekunder seperti literatur dan buku-buku,hasil seminar,makalah,dan artikel. Dan terakhir bahan hukum tertier seperti kamus,tabloid dan situs-situs di internet.
Perolehan suatu pulau (Wilayah) oleh suatu negara tidak hanya sebatas menemukan atau mendeklarasikan kedaulatannya atas pulau tersebut,akan tetapi perlu adanya tindakan nyata atas pulau tersebut yang dilakukan secara terus-menerus dan damai.
Dalam hal ini penulis berkesimpulan bahwa Indonesia perlu melakukan suatu tindakan nyata untuk mengimplementasikan konsep negara kepulauan,yaitu pengelolaan terhadap pulau-pulau kecil terluar yang menurut Konvensi Hukum Laut adalah titik-titik terluar yang berfungsi sebagai garis pangkal lurus kepulauan.Pengelolaan suatu pulau-pulau kecil terluar akan berakibat pada penghitungan lebar Laut Teritorial,Zona Ekonomi Ekslusif,Zona Tambahan dan Landas Kontinen.
MANAGEMENT STRATEGY THE OUTSIDE SMALL ISLANDS OF INDONESIA AS IMPLEMENTATION OF ARCHIPELAGIC STATES
(Rivanli Azis,05140245,Faculty Of Law,Andalas University,65,2008)
ABSTRACTION
On December 17 2002,it’s the historical time between Indonesia and Malaysia.At the time International Court Of Justice decide for Sipadan and Ligitan Island which was law suit since 1969,has ownership by Malaysia with principle of effective occupation for that island.As an Archipelagic States,separation of Sipadan and Ligitan Island is very influence for territory intact of Indonesia in defense and security,territory large,and economic-politic.Position of that island is front out of border territory of Indonesia with neighbor state,its give the significant position to existence that island.According to United Nation Convention On The Law Of The Sea III 1982 mention that archipelagic states to drawing the archipelagic baseline to pass the connective external point which cohesion between the outside island for measure the Sea Territory,Contigous Zone,Exclusive Economic Zone,and Shelf Continent.
In searching answer from issues above,writer use the methode normative,which analyzing substance primary law as United Nation Convention On The Law Of The Sea,Law Number 6 Year 1996 about Indonesia Territorial Water,Precident Regulation Number 78 year 2005 about management the outside mall islands and the others regulation related.Substance of secondary law as literature and the book,result of seminary,article,and essay.And last of substance the tertier law as dictionary,tabloid and situs in the internet.
To obtain some island (territory) by the state,its not only to find or to declaration the souverignty authority above the island.But be needed some concrete measure above the island and the consequence for that measure.
Writer conclusion that Indonesia must do the concrete measure for implementation the archipelagic states concept,there is managing the outside small island that according to Convention On The Law Of The Sea III 1982 it’s the connective external point which function is archipelagic baseline.Managing the outside small island will influence to drawing the Sea Territory,Contigous Zone,Exclusive Economic Zone,and Shelf Continent.
(Rivanli Azis,05140245,Fakultas Hukum,Universitas Andalas,65,2008)
ABSTRAK
Pada tanggal 17 desember 2002 merupakan momentum yang bersejarah bagi kedua negara yang bertetangga yaitu Indonesia dan Malaysia.Pada tanggal tersebut Mahkamah Internasional memutuskan bahwa Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan yang telah menjadi sengketa semenjak tahun 1969 dibawah kedaulatan Malaysia dengan dasar Effectivities Occupation terhadap kedua pulau tersebut.Sebagai Negara Kepulauan,lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan sangat berpengaruh kepada keutuhan wilayah Indonesia baik secara pertahanan dan keamanan,luas wilayah dan ekonomi-politik.Letak kedua pulau itu yang berada di depan batas terluar wilayah dengan negara tetangga Indonesiamemberikan posisi penting bagi keberadaannya.Sedangkan dalam Konvensi Hukum Laut III 1982 menyatakan bahwa Negara Kepulauan dalam menarik garis pangkal kepulauannya melalui titik-titik terluar yang menghubungkan pulau-pulau terluar untuk mengukur Laut Teritorial,Zona Tambahan,Zona Ekonomi Ekslusif,dan Landas Kontinen.
Dalam mencari jawaban dari permasalahan penulis menggunakan Metode Normatif yang menganalisa bahan-bahan hukum primer seperti Konvensi Hukum Laut III 1982,Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia,Peraturan Presiden Nomor 78 tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau Pulau Kecil Terluar dan Peraturan Perundang-Undangan lainnya yang berkaitan dengan Permasalahan.Dan bahan hukum sekunder seperti literatur dan buku-buku,hasil seminar,makalah,dan artikel. Dan terakhir bahan hukum tertier seperti kamus,tabloid dan situs-situs di internet.
Perolehan suatu pulau (Wilayah) oleh suatu negara tidak hanya sebatas menemukan atau mendeklarasikan kedaulatannya atas pulau tersebut,akan tetapi perlu adanya tindakan nyata atas pulau tersebut yang dilakukan secara terus-menerus dan damai.
Dalam hal ini penulis berkesimpulan bahwa Indonesia perlu melakukan suatu tindakan nyata untuk mengimplementasikan konsep negara kepulauan,yaitu pengelolaan terhadap pulau-pulau kecil terluar yang menurut Konvensi Hukum Laut adalah titik-titik terluar yang berfungsi sebagai garis pangkal lurus kepulauan.Pengelolaan suatu pulau-pulau kecil terluar akan berakibat pada penghitungan lebar Laut Teritorial,Zona Ekonomi Ekslusif,Zona Tambahan dan Landas Kontinen.
MANAGEMENT STRATEGY THE OUTSIDE SMALL ISLANDS OF INDONESIA AS IMPLEMENTATION OF ARCHIPELAGIC STATES
(Rivanli Azis,05140245,Faculty Of Law,Andalas University,65,2008)
ABSTRACTION
On December 17 2002,it’s the historical time between Indonesia and Malaysia.At the time International Court Of Justice decide for Sipadan and Ligitan Island which was law suit since 1969,has ownership by Malaysia with principle of effective occupation for that island.As an Archipelagic States,separation of Sipadan and Ligitan Island is very influence for territory intact of Indonesia in defense and security,territory large,and economic-politic.Position of that island is front out of border territory of Indonesia with neighbor state,its give the significant position to existence that island.According to United Nation Convention On The Law Of The Sea III 1982 mention that archipelagic states to drawing the archipelagic baseline to pass the connective external point which cohesion between the outside island for measure the Sea Territory,Contigous Zone,Exclusive Economic Zone,and Shelf Continent.
In searching answer from issues above,writer use the methode normative,which analyzing substance primary law as United Nation Convention On The Law Of The Sea,Law Number 6 Year 1996 about Indonesia Territorial Water,Precident Regulation Number 78 year 2005 about management the outside mall islands and the others regulation related.Substance of secondary law as literature and the book,result of seminary,article,and essay.And last of substance the tertier law as dictionary,tabloid and situs in the internet.
To obtain some island (territory) by the state,its not only to find or to declaration the souverignty authority above the island.But be needed some concrete measure above the island and the consequence for that measure.
Writer conclusion that Indonesia must do the concrete measure for implementation the archipelagic states concept,there is managing the outside small island that according to Convention On The Law Of The Sea III 1982 it’s the connective external point which function is archipelagic baseline.Managing the outside small island will influence to drawing the Sea Territory,Contigous Zone,Exclusive Economic Zone,and Shelf Continent.
Abstrak LKTI Pusako Tingkat Sumbar
PELAYANAN ABORSI AMAN (SAFE ABORTION) DI INDONESIA UNTUK MENEKAN ANGKA KEMATIAN IBU DALAM KAITANNYA DENGAN KELEMAHAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1992 TENTANG KESEHATAN
ABSTRAK
(Rivanli Azis,05140245,Fakultas Hukum Universitas Andalas,19,2008)
Angka kematian ibu melahirkan di Indonesia termasuk tertinggi di kawasan Asia, yakni 307/100.000. Sekitar 13% (78.000) dari kematian ibu karena tindakan aborsi yang tidak aman. Aborsi adalah tindakan penghentian kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) melarang keras dilakukannya aborsi dengan alasan apapun sebagaimana diatur dalam pasal 283, 299 serta pasal 346 - 349. Namun, aturan KUHP yang keras tersebut telah dilunakkan dengan memberikan peluang dilakukannya aborsi. Sebagaimana ditentukan dalam pasal 15 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Metode yang digunakan dalam penulisan adalah Normatif Empiris.Dalam kenyataannya ternyata ada kontradiksi dari isi Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 terutama pasal 15 ayat 1 dimana tindakan media dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun, dilarang karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan, dan norma kesopanan. Dasar hukum tindakan aborsi yang cacat hukum dan tidak jelas menjadikan tenaga kesehatan yang memberi pelayanan rentan di mata hukum.Akhirnya, Upaya legalisasi aborsi semestinya segera diberlakukan, dengan membentuk sarana layanan aborsi dan Amandemen Undang-Undang Kesehatan khususnya pasal 15 ayat 1 dan 2 sudah menjadi keniscayaan karena terkesan kontroversial.
ABSTRAK
(Rivanli Azis,05140245,Fakultas Hukum Universitas Andalas,19,2008)
Angka kematian ibu melahirkan di Indonesia termasuk tertinggi di kawasan Asia, yakni 307/100.000. Sekitar 13% (78.000) dari kematian ibu karena tindakan aborsi yang tidak aman. Aborsi adalah tindakan penghentian kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) melarang keras dilakukannya aborsi dengan alasan apapun sebagaimana diatur dalam pasal 283, 299 serta pasal 346 - 349. Namun, aturan KUHP yang keras tersebut telah dilunakkan dengan memberikan peluang dilakukannya aborsi. Sebagaimana ditentukan dalam pasal 15 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Metode yang digunakan dalam penulisan adalah Normatif Empiris.Dalam kenyataannya ternyata ada kontradiksi dari isi Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 terutama pasal 15 ayat 1 dimana tindakan media dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun, dilarang karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan, dan norma kesopanan. Dasar hukum tindakan aborsi yang cacat hukum dan tidak jelas menjadikan tenaga kesehatan yang memberi pelayanan rentan di mata hukum.Akhirnya, Upaya legalisasi aborsi semestinya segera diberlakukan, dengan membentuk sarana layanan aborsi dan Amandemen Undang-Undang Kesehatan khususnya pasal 15 ayat 1 dan 2 sudah menjadi keniscayaan karena terkesan kontroversial.
Abstrak MKTQ Tingkat Unand
IMPLEMENTASI HUKUMAN PIDANA DALAM PERSFEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM POSITIF PIDANA INDONESIA
(Ichwan, Rivanli Azis, Adrian Fetriskha, Fakultas Hukum Universitas Andalas)
ABSTRAK
Hukuman sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hambanya untuk kejahatan tertentu sudah ditentukan jenisnya, yaitu sebagaimana tertulis dalam Al-qur’an yang pelaksanaanya dikuasakan kepada penguasa sebagai kholifah (wakil) Allah SWT dimuka bumi. Penjatuhan hukuman, harus ditafsirkan sebagai bentuk perlindungan hukum dari negara kepada warga negara, yang sesungguhnya merupakan wujud dari tujuan dibentuknya negara sebagaimana tertuang dalam alinea ke IV Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Komitmen UUD 1945 untuk memberikan perlindungan hukum kepada warga negaranya dalam pengertian yang sangat luas sebagai hak mutlak yang dianugerahkan oleh Allah SWT, juga dijabarkan dalam BAB XA UUD 1945 tentang Hak Asasi Manusia. Penjatuhan pidana mati merupakan konsekuensi logis bagi seseorang yang melakukan kejahatan, berkedudukan sebagai pidana pokok yang harus dilaksanakan, kecuali terdapat alasan-alasan syar’i yang membenarkan untuk tidak dilaksanakan. Pencantuman pidana mati diluar pidana pokok, dapat menimbulkan kesan seolah-olah pembentuk undang-undang ragu untuk mencantumkan atau tidak mencantumkannya sebagai salah satu jenis pidana. Tujuan dari penulisan ini adalah mencari adanya perbedaan dan korelasi terhadap hukuman pidana mati sesuai dengan hukum pidana islam dan hukum positif pidana Indonesia. Dalam penulisan ini, kami menggunakan metode pendekatan normatfi atau pendekatan doktrinal yang disesuaikan dengan literatu-literatur yang berkaitan dengan judul penulisan ini. Sumber data yang penulis pakai adalah sumber data sekunder yang meliputi bahan hukum primer yaitu Al-qur’an, Hadist Rasulullah, Ijtihad para ulama, pancasila, UUD 1945, KUHPidana serta peraturan perundang-undangan lainnya. Adapun hasil penelitian penulis bahwa pidana mati tercantum secara jelas sebagai salah satu pidana pokok dalam hukum pidana Indonesia. Tidak hanya dalam KUHP, pada beberapa peraturan perundang-undangan lainpun pidana mati juga dijadikan sebagai salah satu pidana yang diancamkan terhadap seseorang yang melanggar aturan perundang-undangan tersebut. Mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim dan Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia. Islam juga menerapkan pidana mati terhadap tindak pidana yang mengancam ketertiban masyarakat. Dalam Islam pidana mati adalah ketentuan yang telah ditetapkan Allah terhadap seluruh manusia, maka atas alasan apapun ini tidak dapat dihapuskan oleh manusia. Hukum dan ketentuan dari Allah mengenai pidana mati barulah dapat batal apabila ada beberapa syarat yang tidak terpenuhi.
(Ichwan, Rivanli Azis, Adrian Fetriskha, Fakultas Hukum Universitas Andalas)
ABSTRAK
Hukuman sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hambanya untuk kejahatan tertentu sudah ditentukan jenisnya, yaitu sebagaimana tertulis dalam Al-qur’an yang pelaksanaanya dikuasakan kepada penguasa sebagai kholifah (wakil) Allah SWT dimuka bumi. Penjatuhan hukuman, harus ditafsirkan sebagai bentuk perlindungan hukum dari negara kepada warga negara, yang sesungguhnya merupakan wujud dari tujuan dibentuknya negara sebagaimana tertuang dalam alinea ke IV Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Komitmen UUD 1945 untuk memberikan perlindungan hukum kepada warga negaranya dalam pengertian yang sangat luas sebagai hak mutlak yang dianugerahkan oleh Allah SWT, juga dijabarkan dalam BAB XA UUD 1945 tentang Hak Asasi Manusia. Penjatuhan pidana mati merupakan konsekuensi logis bagi seseorang yang melakukan kejahatan, berkedudukan sebagai pidana pokok yang harus dilaksanakan, kecuali terdapat alasan-alasan syar’i yang membenarkan untuk tidak dilaksanakan. Pencantuman pidana mati diluar pidana pokok, dapat menimbulkan kesan seolah-olah pembentuk undang-undang ragu untuk mencantumkan atau tidak mencantumkannya sebagai salah satu jenis pidana. Tujuan dari penulisan ini adalah mencari adanya perbedaan dan korelasi terhadap hukuman pidana mati sesuai dengan hukum pidana islam dan hukum positif pidana Indonesia. Dalam penulisan ini, kami menggunakan metode pendekatan normatfi atau pendekatan doktrinal yang disesuaikan dengan literatu-literatur yang berkaitan dengan judul penulisan ini. Sumber data yang penulis pakai adalah sumber data sekunder yang meliputi bahan hukum primer yaitu Al-qur’an, Hadist Rasulullah, Ijtihad para ulama, pancasila, UUD 1945, KUHPidana serta peraturan perundang-undangan lainnya. Adapun hasil penelitian penulis bahwa pidana mati tercantum secara jelas sebagai salah satu pidana pokok dalam hukum pidana Indonesia. Tidak hanya dalam KUHP, pada beberapa peraturan perundang-undangan lainpun pidana mati juga dijadikan sebagai salah satu pidana yang diancamkan terhadap seseorang yang melanggar aturan perundang-undangan tersebut. Mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim dan Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia. Islam juga menerapkan pidana mati terhadap tindak pidana yang mengancam ketertiban masyarakat. Dalam Islam pidana mati adalah ketentuan yang telah ditetapkan Allah terhadap seluruh manusia, maka atas alasan apapun ini tidak dapat dihapuskan oleh manusia. Hukum dan ketentuan dari Allah mengenai pidana mati barulah dapat batal apabila ada beberapa syarat yang tidak terpenuhi.
Selasa, 02 Desember 2008
Antara Yusuf dan ABG Kita
Antara Yusuf dan ABG Kita
Oleh : Rivanli Azis*
Hari itu menjadi awal perjalanan panjang hidup seorang Yusuf.Anak Nabi Ya’qub itu dikhianati saudara-saudara seayahnya.Meski Ya’qub mulanya tak mengizinkan,mereka tetap memaksa dibolehkan membawa Yusuf bermain-main.Akhirnya,Yusuf dibawa main.Niat jahat saudara-saudaranya terus menggelora.Akhirnya Yusuf dilempar ke dasar sumur.Untuk mengelabui ayahnya yang buta,ia bawa baju Yusuf pulang.
Betapa malang nasib anak muda berhati mulia itu.Ia harus meringkuk di dalam sumur.Tetapi Allah berkehendak lain.Di kemudian hari diketahui, baha semua cobaan itu adalah bagian dari jalan menuju kemuliaannya.Tak ada prestasi tanpa ujian.Karena ujian membuat prestasi jadi jelas ukurannya.Demikian pula iman.Setiap orang mukmin pasti diberi ujian oleh Allah.Tak terkecuali Nabi dan Rosul Allah.
Beberapa waktu kemudian,ada kafilah lewat.Mereka beristirahat dekat sumur itu.Salah satu dari mereka hendak mengambil air di dalam sumur itu.Ia pun memasukkan timbanya ke dalam sumur, tanpa sedikitpun tahu bila di dalam sumur itu ada seorang anak muda,korban kejahatan saudaranya.
Segera saja Yusuf meraih timba itu.Begitu timba sampai diatas, sang Musafir kaget bukan kepalang.Ia sangat heran.Setengah berteriak ia berucap,”Oh, kabar gembira,ini seorang anak muda.”Ia heran mengapa di dalam sumur ada anak.Tapi,kalau saja si musafir itu orang baik-baik,mungkin cobaan Nabi Yusuf akan berakhir.Tapi Yusuf justru disimpan dan dijadikan barang dagangan.Dan bukannya dikembalikan kepada orang tuanya.Didorong keinginan materi,akhirnya Yusuf dijual.Cobaan Yusuf bertambah lagi.Setelah terkurung didalam sumur,kini ia terkungkung dengan statusnya sebagai orang jualan.
Yusuf dibawa ke Mesir.Setiba disana,nasibnya sedikit berubah.Ia dibeli oleh keluarga Raja Mesir,yang bergelar Al-Aziz.Sejak itu,ujian yang diterima Yusuf seakan reda.Karena keluarga raja memperlakukan Yusuf dengan baik.Yusuf tumbuh menjadi pemuda seperti pada umumnya.Wajahnya tampan.Tubuhnya mempesona.Daya tarik lahiriah ini ternyata menimbulkan ujian lain bagi iman Yusuf.Derita fisik yang ia alami dari perlakuan saudara-saudaranya,kini berganti dengan derita bathin.Apa masalahnya? Istri Al-Aziz ,yang merupakan wanita terpandang di negeri itu tergoda oleh Yusuf.
Syetan mulai merasuki istri Al-Aziz.Ia mencoba menggoda Yusuf.Segala cara dilakukan.Tapi Yusuf tetap tegar.Meski Yusuf sendiri juga perlu kekuatan besar untuk mengendalikan syahwatnya.Pintu dan jendela sudah dikunci oleh istri Al-Aziz.Yusuf bukan sembarang pemuda.Rasa malu dihatinya kepada Allah membuatnya tetap menolak ajakan istri Al-Aziz.Akhirnya istri Al-Aziz mengejarnya.
“Marilah kesini,”kata istri Al-Aziz.
”Aku berlindung kepada Allah,sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.”
Yusuf pun lari ke arah pintu.Keduanya berlomba-lomba menuju pintu.Wanita itu menarik baju gamis Yusuf.Saat itulah Al-Aziz muncul di depan pintu.Tapi cobaan belum berakhir.Justru istri Al-Aziz menuduh dirinya hendak memperkosanya.
”Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu,selain dipenjarakan atau dihukum dengan azab yang pedih,”kata istri Al-Aziz.
Yusuf segera menyela,”Dia menggodaku untuk menundukkan diriku kepadanya.”
Suami (Al-Aziz) meminta agar Yusuf merahasiakan peristiwa itu.Ia juga meminta istrinya agar segera bertaubat kepada Allah.Tapi berita itu sampai juga ke luar.Wanita-wanita di Mesir mengecam peristiwa itu.Tetapi istri Al-Aziz (Siti Zulaikha) tetap berpegang pada pendiriannya.Ia kumpulkan wanita-wanita itu,lalu diberikannya masing-masing sebuah pisau untuk memotong jamuan.Tatkala melihat keelokan Yusuf,mereka tertegun dan melukai jari tangannya.
Akhirnya istri Al-Aziz mengganjar Yusuf dengan penjara.Tapi Yusuf lebih memilih masuk penjara daripada melayani keinginan wanita itu.Yusuf berdo’a,”Wahai Tuhanku,penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka,tentu aku akan cenderung untuk memenuhi keinginan mereka dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”
Di penjara bukan berarti harus berduka lara.Justru di dalam penjara itu Yusuf mendakwahi narapidana yang ada disana.Ketika ia dimintai rekan sesama satu penjara untuk menakwilkan mimpinya,Yusuf mengajak mereka untuk mengEsakan Allah.”Hai kedua temanku dalam penjara manakah yang baik,tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?
Begitulah, waktu terus berlalu,apa yang ditakwilkan oleh Yusuf benar adanya.Tetapi temannya yang keluar lebih dulu itu lupa pesan Yusuf,agar menanyakan kepada Raja bagaimana keputusan untuk Yusuf.Sampai akhirnya Yusuf bisa keluar,itupun setelah Raja kebingungan mencari siapa yang bisa menakwilkan mimpinya.Saat itu teman Yusuf yang sudah keluar itu baru ingat,bahwa di dalam penjara ada kawannya yang bisa menakwilkan mimpi.
Keluarnya Yusuf menjadi babak baru bagi perjalanan hidupnya.Akhirnya Yusuf bisa tinggal di Istana,malah menjabat bendahara negeri Mesir.Tak lama kemudian, ia bisa berkumpul lagi dengan ayahnya,juga dengan saudara-saudara tirinya.Kini coba sandingkan, antara wajah kehidupan Nabi Yusuf,dengan wajah keseharian anak-anak muda kita?Manakah mereka dari Yusuf?Apa yang bisa kita lihat dari kisah Yusuf dengan perilaku anak muda kita saat ini?Tak akn bisa dibandingkan.Tetapi sebenarnya setiap pemuda bisa mengejar cita-cita besar.Seperti ketabahan Yusuf itu.Bukan justru seperti sekarang.Banyak anak muda yang hancur berantakan.Terlibat kriminalitas,pecandu narkoba,pelaku seks bebas,dan masih banyak lagi perilaku busuk lainnya.Mereka menelan mentyah-mentah budaya barat.Seperti hari kasih sayang,pesta Halloween,dan lain sebagainya.Bahkan budaya yang dinegeri aslinya sudah basi sekalipun masih banyak yang laku keras di negeri ini.
Memang,banyak pihak yang harus bertanggungjawab.Tetapi pertama kali para pemuda itu sendiri yang harus bertanggungjawab.Sebab,meski keburukan mereka berdampak kepada orang lain,tetapi terlebih dahulu diri mereka sendiri yang hancur,di dunia maupun di akhirat.Kecuali mereka yang bertaubat lagi memperbaiki diri.Kita menanti lahirnya sosok-sosok Yusuf.Yang tabah,tegar,dan istiqomah di jalan iman.Meski punya modal ketampanan dan kesempatan,tetapi baginya Allah diatas segala-galanya.Kita menanti pemuda-pemuda Yusuf,agar umat ini tak sampai binasa.Agar bangsa ini tak harus hancur.
(dimuat di harian haluan edisi Februari 2008)
*Penulis adalah Koordinator Humas Lembaga Pengkajian Islam Fakultas Hukum Universitas Andalas Periode 2007-2008
Oleh : Rivanli Azis*
Hari itu menjadi awal perjalanan panjang hidup seorang Yusuf.Anak Nabi Ya’qub itu dikhianati saudara-saudara seayahnya.Meski Ya’qub mulanya tak mengizinkan,mereka tetap memaksa dibolehkan membawa Yusuf bermain-main.Akhirnya,Yusuf dibawa main.Niat jahat saudara-saudaranya terus menggelora.Akhirnya Yusuf dilempar ke dasar sumur.Untuk mengelabui ayahnya yang buta,ia bawa baju Yusuf pulang.
Betapa malang nasib anak muda berhati mulia itu.Ia harus meringkuk di dalam sumur.Tetapi Allah berkehendak lain.Di kemudian hari diketahui, baha semua cobaan itu adalah bagian dari jalan menuju kemuliaannya.Tak ada prestasi tanpa ujian.Karena ujian membuat prestasi jadi jelas ukurannya.Demikian pula iman.Setiap orang mukmin pasti diberi ujian oleh Allah.Tak terkecuali Nabi dan Rosul Allah.
Beberapa waktu kemudian,ada kafilah lewat.Mereka beristirahat dekat sumur itu.Salah satu dari mereka hendak mengambil air di dalam sumur itu.Ia pun memasukkan timbanya ke dalam sumur, tanpa sedikitpun tahu bila di dalam sumur itu ada seorang anak muda,korban kejahatan saudaranya.
Segera saja Yusuf meraih timba itu.Begitu timba sampai diatas, sang Musafir kaget bukan kepalang.Ia sangat heran.Setengah berteriak ia berucap,”Oh, kabar gembira,ini seorang anak muda.”Ia heran mengapa di dalam sumur ada anak.Tapi,kalau saja si musafir itu orang baik-baik,mungkin cobaan Nabi Yusuf akan berakhir.Tapi Yusuf justru disimpan dan dijadikan barang dagangan.Dan bukannya dikembalikan kepada orang tuanya.Didorong keinginan materi,akhirnya Yusuf dijual.Cobaan Yusuf bertambah lagi.Setelah terkurung didalam sumur,kini ia terkungkung dengan statusnya sebagai orang jualan.
Yusuf dibawa ke Mesir.Setiba disana,nasibnya sedikit berubah.Ia dibeli oleh keluarga Raja Mesir,yang bergelar Al-Aziz.Sejak itu,ujian yang diterima Yusuf seakan reda.Karena keluarga raja memperlakukan Yusuf dengan baik.Yusuf tumbuh menjadi pemuda seperti pada umumnya.Wajahnya tampan.Tubuhnya mempesona.Daya tarik lahiriah ini ternyata menimbulkan ujian lain bagi iman Yusuf.Derita fisik yang ia alami dari perlakuan saudara-saudaranya,kini berganti dengan derita bathin.Apa masalahnya? Istri Al-Aziz ,yang merupakan wanita terpandang di negeri itu tergoda oleh Yusuf.
Syetan mulai merasuki istri Al-Aziz.Ia mencoba menggoda Yusuf.Segala cara dilakukan.Tapi Yusuf tetap tegar.Meski Yusuf sendiri juga perlu kekuatan besar untuk mengendalikan syahwatnya.Pintu dan jendela sudah dikunci oleh istri Al-Aziz.Yusuf bukan sembarang pemuda.Rasa malu dihatinya kepada Allah membuatnya tetap menolak ajakan istri Al-Aziz.Akhirnya istri Al-Aziz mengejarnya.
“Marilah kesini,”kata istri Al-Aziz.
”Aku berlindung kepada Allah,sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.”
Yusuf pun lari ke arah pintu.Keduanya berlomba-lomba menuju pintu.Wanita itu menarik baju gamis Yusuf.Saat itulah Al-Aziz muncul di depan pintu.Tapi cobaan belum berakhir.Justru istri Al-Aziz menuduh dirinya hendak memperkosanya.
”Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu,selain dipenjarakan atau dihukum dengan azab yang pedih,”kata istri Al-Aziz.
Yusuf segera menyela,”Dia menggodaku untuk menundukkan diriku kepadanya.”
Suami (Al-Aziz) meminta agar Yusuf merahasiakan peristiwa itu.Ia juga meminta istrinya agar segera bertaubat kepada Allah.Tapi berita itu sampai juga ke luar.Wanita-wanita di Mesir mengecam peristiwa itu.Tetapi istri Al-Aziz (Siti Zulaikha) tetap berpegang pada pendiriannya.Ia kumpulkan wanita-wanita itu,lalu diberikannya masing-masing sebuah pisau untuk memotong jamuan.Tatkala melihat keelokan Yusuf,mereka tertegun dan melukai jari tangannya.
Akhirnya istri Al-Aziz mengganjar Yusuf dengan penjara.Tapi Yusuf lebih memilih masuk penjara daripada melayani keinginan wanita itu.Yusuf berdo’a,”Wahai Tuhanku,penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka,tentu aku akan cenderung untuk memenuhi keinginan mereka dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”
Di penjara bukan berarti harus berduka lara.Justru di dalam penjara itu Yusuf mendakwahi narapidana yang ada disana.Ketika ia dimintai rekan sesama satu penjara untuk menakwilkan mimpinya,Yusuf mengajak mereka untuk mengEsakan Allah.”Hai kedua temanku dalam penjara manakah yang baik,tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?
Begitulah, waktu terus berlalu,apa yang ditakwilkan oleh Yusuf benar adanya.Tetapi temannya yang keluar lebih dulu itu lupa pesan Yusuf,agar menanyakan kepada Raja bagaimana keputusan untuk Yusuf.Sampai akhirnya Yusuf bisa keluar,itupun setelah Raja kebingungan mencari siapa yang bisa menakwilkan mimpinya.Saat itu teman Yusuf yang sudah keluar itu baru ingat,bahwa di dalam penjara ada kawannya yang bisa menakwilkan mimpi.
Keluarnya Yusuf menjadi babak baru bagi perjalanan hidupnya.Akhirnya Yusuf bisa tinggal di Istana,malah menjabat bendahara negeri Mesir.Tak lama kemudian, ia bisa berkumpul lagi dengan ayahnya,juga dengan saudara-saudara tirinya.Kini coba sandingkan, antara wajah kehidupan Nabi Yusuf,dengan wajah keseharian anak-anak muda kita?Manakah mereka dari Yusuf?Apa yang bisa kita lihat dari kisah Yusuf dengan perilaku anak muda kita saat ini?Tak akn bisa dibandingkan.Tetapi sebenarnya setiap pemuda bisa mengejar cita-cita besar.Seperti ketabahan Yusuf itu.Bukan justru seperti sekarang.Banyak anak muda yang hancur berantakan.Terlibat kriminalitas,pecandu narkoba,pelaku seks bebas,dan masih banyak lagi perilaku busuk lainnya.Mereka menelan mentyah-mentah budaya barat.Seperti hari kasih sayang,pesta Halloween,dan lain sebagainya.Bahkan budaya yang dinegeri aslinya sudah basi sekalipun masih banyak yang laku keras di negeri ini.
Memang,banyak pihak yang harus bertanggungjawab.Tetapi pertama kali para pemuda itu sendiri yang harus bertanggungjawab.Sebab,meski keburukan mereka berdampak kepada orang lain,tetapi terlebih dahulu diri mereka sendiri yang hancur,di dunia maupun di akhirat.Kecuali mereka yang bertaubat lagi memperbaiki diri.Kita menanti lahirnya sosok-sosok Yusuf.Yang tabah,tegar,dan istiqomah di jalan iman.Meski punya modal ketampanan dan kesempatan,tetapi baginya Allah diatas segala-galanya.Kita menanti pemuda-pemuda Yusuf,agar umat ini tak sampai binasa.Agar bangsa ini tak harus hancur.
(dimuat di harian haluan edisi Februari 2008)
*Penulis adalah Koordinator Humas Lembaga Pengkajian Islam Fakultas Hukum Universitas Andalas Periode 2007-2008
Pendidikan
Pendidikan Putus Rantai Kemiskinan
Oleh : RIVANLI AZIS*
Kalau kita belajar dari Negara Vietnam, ada sebuah contoh yang sangat menakjubkan dan ini perlu ditiru oleh Penguasa negeri ini.Setelah hancur diluluhlantakkan oleh perang panjang melaan Amerika, namun dalam waktu yang relatif singkat berhasil mencapai kemajuan baik dibidang ekonomi,sosial dan kebudayaan.Kini setiap harinya orang-orang lalu lalang dengan kesibukan luar biasa,baik didesa-desa apalagi dikota-kota.Timbul pertanyaan dari kita.Darimanakah spirit ini diperoleh?
Ternyata spirit yang luar biasa ini diilhami oleh salah seorang tokoh besar Vietnam bernama Ho Chi Min.Ia pernah berkata ,”Wahai rakyatku, kita sudah berhasil mengalahkan musuh besar kita yaitu Amerika.Kita mampu melawan dan mengusir kekuatan adidaya itu dari negeri yang kita cintai ini.Sekarang musuh besar kita adalah Kemiskinan, jadi kita juga harus menang melawannya, dengan cara bekerja keras,dengan cara itu kita akan mencapai kemajuan di segala bidang.”Kalimat itu dipampang disudut-sudut kota dan pedesaan.
Dan slogan ini mampu membangkitkan motivasi serta semangat bangsa yang nyaris hancur diamuk perang itu.Begitu besarnya pengaruh slogan itu.Adakah pemimpin dinegeri ini yang memacu semangat rakyat agar giat bekerja dan optimis menatap kehidupan ?
Agar rakyat dapat bekerja dengan baik tentu dibekali dengan Ilmu Pengetahuan.Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah tentu membutuhkan Sumber Daya Manusia yang handal untuk mengolahnya.Sekarang masih kita temui ada rakyat Indonesia yang buta huruf,tidak bisa baca tulis,masih ada yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak,masih ada yang meminta-minta dijalanan,masih ada yang tidur dikolong jembatan,masih ada yang mengais-ngais sampah mencari makanan yang mungkin ada tersisa sedikit disela-sela amisnya bau sampah.Begitulah problematika rakyat yang tidak dapat mengenyam pendidikan sehingga kemiskinan masih senang menggelayuti kehidupan rakyat kita saat ini.
Seandainya bangsa ini mau membangun negeri ini dengan pendidikan tentu kemiskinan akan berkurang.Tidak percaya ?Lihatlah Jepang.Ketika wilayah Jepang sudah hancur lebur dihantam oleh Sekutu ketika Perang Dunia Kedua,masih ada perhatian Penguasa Jepang waktu itu terhadap pendidikan.”Masih adakah Guru-guru yang hidup ?”ujar Penguasa Jepang.Begitu cinta dan hormatnya Penguasa Jepang kepada guru.Bandingkan dengan keadaan kita bahkan di sinetron-sinetronpun citra guru begitu direndahkan.Jepang bangkit mengejar ketertinggalannya dengan membangun Pendidikan.Hasilnya boleh dilihat sekarang.Jepang dikenal sebagai Industri Terkemuka di dunia dan sangat ditakuti oleh Negara adidaya seperti Amerika Serikat.
Mungkin ada sebahagian kalangan pakar berpendapat ,”Kemiskinan Bangsa ini karena jumlah penduduk yang besar sehingga menyebabkan tingginya pengangguran”.Benarkah adagium demikian ?Cobalah kita tengok Negara RRC(Republik Rakyat Cina).Cina dengan jumlah penduduk yang banyak ternyata rakyatnya sejahtera.Bahkan ada sebuah survey yang menyatakan ,”Setiap bulan di Cina ada 1000 orang kaya baru yang lahir”.
Dimanakah kehebatan Cina sehingga Cina kerepotan pula menurunkan persentase pertumbuhan ekonominya ? Jawabannya adalah Cina membangun Sumber Daya Manusia dengan terencana.Pendidikan menjadi prioritas Cina untuk mensejahterakan rakyatnya.Masihkah Penguasa negeri ini mengabaikan Pendidikan ?
Kemiskinan yang menggerogoti bangsa ini harus diputus dengan Pendidikan.Kalau kita lihat pada Konstitusi Negara Indonesia Ini tepatnya pada pasal 31 ayat 1 (satu) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disitu dinyatakan secara tegas ,”Tiap-tiap Warga Negara berhak mendapatkan Pendidikan.”Kemudian dilanjutkan pada ayat 2 (dua)nya bahwa ,”Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidkan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”.Disini terlihat bahwasanya pendidikan dasar itu ditanggung oleh Negara.
Tetapi,kenapa banyak sekali kita temui pungutan yang dibebankan kepada Wali Siswa Sekolah Dasar ?Belum lagi masalah dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah).Ada sebahagian kalangan menilai dana BOS tidak tepat sasaran bahkan ada yang dikorupsi.Kapan mau majunya Pendidikan kalau mental korupsi masih juga dipelihara ?
Demikian juga Pendidikan Tinggi.Pendidikan Tinggi memakan biaya yang lumayan besar.Bahkan saat ini beredar rumor ,”Orang Miskin Dilarang Kuliah”.Kenapa ini bisa terjadi ?Menurut beberapa pengamat Mahalnya Pendidikan di Universitas disebabkan Pemerintah tidak lagi memberikan subsidi kepada Universitas tersebut.Artinya apa ? Biaya penyelenggaraan pendidikan tinggi akan ditanggung sepenuhnya oleh Universitas tersebut.Diamanakah peran Pemerintah ? Kenapa Pemerintah tega mengkomersialisasikan Pendidikan tinggi ?Belum lagi masalah anggaran pendidikan sebesar 20% dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah yang sampai saat ini belum juga terealisasikan oleh semua daerah.Tidakkah Pemerintah tahu bahwasanya hal itu adalah amanat dari Konstitusi kita?
Mungkin bagi yang mendapatkan beastudi seperti yang Penulis alami,tentu tidak direpotkan dengan biaya pendidikan yang selangit.Bagaimana dengan mereka yang tidak mendapatkan Beastudi atau Beasiswa sementara Orang tua mereka untuk memenuhi kebutuhan pokok masih pontang-panting ?
Ada pengalaman dari seorang teman penulis yang lulus SPMB dan diterima di Perguruan Tinggi Negeri favorit tidak jadi kuliah disebabkan tidak mampu membayar uang masuk yang sekian juta rupiah.Begitulah keadaan yang menyedihkan yang terjadi di negeri ini.
Mungkin ada baiknya kita mengadopsi sistem cicilan yang diterapkan Cina.Pemerintah Cina membebaskan biaya Pendidikan Tinggi kepada Mahasiswanya dengan syarat Mahasiswa tersebut akan mencicil biaya yang dikeluarkan Pemerintah Cina setelah berpenghasilan tetap.Sebahagian Beasiswa ada yang menerapkan konsep seperti ini.Misalnya,lembaga beasiswa tersebut membantu Pendidikan satu orang Mahasiswa sampai tamat.Nantinya setelah tamat dan berpenghasilan tetap, Sarjana tersebut akan membiayai Yuniornya (mahasiswa dibawahnya) sampai tamat pula.Demikian seterusnya hingga banyak yang menikmati dan mendapat beasiswa.
Akhirnya,melalui tulisan ini Penulis berharap Semua elemen masyarakat dan Pemerintah memperkuat Pendidikan ini.Pendidikan merupakan Pondasi sebuah peradaban yang ingin maju.Kalau ingin generasi muda Indonesia sukses di kemudian hari perbaiki mutu pendidikan.Wallahu’alam bishawab !!!(dimuat di harian haluan edisi mei 2008)
*Penulis adalah Penerima Beastudi Etos DD Republika dan saat ini masih menuntut ilmu di Fakultas Hukum Universitas Andalas.Saat ini menjabat sebagai Sekretaris DPC PERMAHI Padang 2008-2010.
Oleh : RIVANLI AZIS*
Kalau kita belajar dari Negara Vietnam, ada sebuah contoh yang sangat menakjubkan dan ini perlu ditiru oleh Penguasa negeri ini.Setelah hancur diluluhlantakkan oleh perang panjang melaan Amerika, namun dalam waktu yang relatif singkat berhasil mencapai kemajuan baik dibidang ekonomi,sosial dan kebudayaan.Kini setiap harinya orang-orang lalu lalang dengan kesibukan luar biasa,baik didesa-desa apalagi dikota-kota.Timbul pertanyaan dari kita.Darimanakah spirit ini diperoleh?
Ternyata spirit yang luar biasa ini diilhami oleh salah seorang tokoh besar Vietnam bernama Ho Chi Min.Ia pernah berkata ,”Wahai rakyatku, kita sudah berhasil mengalahkan musuh besar kita yaitu Amerika.Kita mampu melawan dan mengusir kekuatan adidaya itu dari negeri yang kita cintai ini.Sekarang musuh besar kita adalah Kemiskinan, jadi kita juga harus menang melawannya, dengan cara bekerja keras,dengan cara itu kita akan mencapai kemajuan di segala bidang.”Kalimat itu dipampang disudut-sudut kota dan pedesaan.
Dan slogan ini mampu membangkitkan motivasi serta semangat bangsa yang nyaris hancur diamuk perang itu.Begitu besarnya pengaruh slogan itu.Adakah pemimpin dinegeri ini yang memacu semangat rakyat agar giat bekerja dan optimis menatap kehidupan ?
Agar rakyat dapat bekerja dengan baik tentu dibekali dengan Ilmu Pengetahuan.Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah tentu membutuhkan Sumber Daya Manusia yang handal untuk mengolahnya.Sekarang masih kita temui ada rakyat Indonesia yang buta huruf,tidak bisa baca tulis,masih ada yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak,masih ada yang meminta-minta dijalanan,masih ada yang tidur dikolong jembatan,masih ada yang mengais-ngais sampah mencari makanan yang mungkin ada tersisa sedikit disela-sela amisnya bau sampah.Begitulah problematika rakyat yang tidak dapat mengenyam pendidikan sehingga kemiskinan masih senang menggelayuti kehidupan rakyat kita saat ini.
Seandainya bangsa ini mau membangun negeri ini dengan pendidikan tentu kemiskinan akan berkurang.Tidak percaya ?Lihatlah Jepang.Ketika wilayah Jepang sudah hancur lebur dihantam oleh Sekutu ketika Perang Dunia Kedua,masih ada perhatian Penguasa Jepang waktu itu terhadap pendidikan.”Masih adakah Guru-guru yang hidup ?”ujar Penguasa Jepang.Begitu cinta dan hormatnya Penguasa Jepang kepada guru.Bandingkan dengan keadaan kita bahkan di sinetron-sinetronpun citra guru begitu direndahkan.Jepang bangkit mengejar ketertinggalannya dengan membangun Pendidikan.Hasilnya boleh dilihat sekarang.Jepang dikenal sebagai Industri Terkemuka di dunia dan sangat ditakuti oleh Negara adidaya seperti Amerika Serikat.
Mungkin ada sebahagian kalangan pakar berpendapat ,”Kemiskinan Bangsa ini karena jumlah penduduk yang besar sehingga menyebabkan tingginya pengangguran”.Benarkah adagium demikian ?Cobalah kita tengok Negara RRC(Republik Rakyat Cina).Cina dengan jumlah penduduk yang banyak ternyata rakyatnya sejahtera.Bahkan ada sebuah survey yang menyatakan ,”Setiap bulan di Cina ada 1000 orang kaya baru yang lahir”.
Dimanakah kehebatan Cina sehingga Cina kerepotan pula menurunkan persentase pertumbuhan ekonominya ? Jawabannya adalah Cina membangun Sumber Daya Manusia dengan terencana.Pendidikan menjadi prioritas Cina untuk mensejahterakan rakyatnya.Masihkah Penguasa negeri ini mengabaikan Pendidikan ?
Kemiskinan yang menggerogoti bangsa ini harus diputus dengan Pendidikan.Kalau kita lihat pada Konstitusi Negara Indonesia Ini tepatnya pada pasal 31 ayat 1 (satu) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disitu dinyatakan secara tegas ,”Tiap-tiap Warga Negara berhak mendapatkan Pendidikan.”Kemudian dilanjutkan pada ayat 2 (dua)nya bahwa ,”Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidkan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”.Disini terlihat bahwasanya pendidikan dasar itu ditanggung oleh Negara.
Tetapi,kenapa banyak sekali kita temui pungutan yang dibebankan kepada Wali Siswa Sekolah Dasar ?Belum lagi masalah dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah).Ada sebahagian kalangan menilai dana BOS tidak tepat sasaran bahkan ada yang dikorupsi.Kapan mau majunya Pendidikan kalau mental korupsi masih juga dipelihara ?
Demikian juga Pendidikan Tinggi.Pendidikan Tinggi memakan biaya yang lumayan besar.Bahkan saat ini beredar rumor ,”Orang Miskin Dilarang Kuliah”.Kenapa ini bisa terjadi ?Menurut beberapa pengamat Mahalnya Pendidikan di Universitas disebabkan Pemerintah tidak lagi memberikan subsidi kepada Universitas tersebut.Artinya apa ? Biaya penyelenggaraan pendidikan tinggi akan ditanggung sepenuhnya oleh Universitas tersebut.Diamanakah peran Pemerintah ? Kenapa Pemerintah tega mengkomersialisasikan Pendidikan tinggi ?Belum lagi masalah anggaran pendidikan sebesar 20% dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah yang sampai saat ini belum juga terealisasikan oleh semua daerah.Tidakkah Pemerintah tahu bahwasanya hal itu adalah amanat dari Konstitusi kita?
Mungkin bagi yang mendapatkan beastudi seperti yang Penulis alami,tentu tidak direpotkan dengan biaya pendidikan yang selangit.Bagaimana dengan mereka yang tidak mendapatkan Beastudi atau Beasiswa sementara Orang tua mereka untuk memenuhi kebutuhan pokok masih pontang-panting ?
Ada pengalaman dari seorang teman penulis yang lulus SPMB dan diterima di Perguruan Tinggi Negeri favorit tidak jadi kuliah disebabkan tidak mampu membayar uang masuk yang sekian juta rupiah.Begitulah keadaan yang menyedihkan yang terjadi di negeri ini.
Mungkin ada baiknya kita mengadopsi sistem cicilan yang diterapkan Cina.Pemerintah Cina membebaskan biaya Pendidikan Tinggi kepada Mahasiswanya dengan syarat Mahasiswa tersebut akan mencicil biaya yang dikeluarkan Pemerintah Cina setelah berpenghasilan tetap.Sebahagian Beasiswa ada yang menerapkan konsep seperti ini.Misalnya,lembaga beasiswa tersebut membantu Pendidikan satu orang Mahasiswa sampai tamat.Nantinya setelah tamat dan berpenghasilan tetap, Sarjana tersebut akan membiayai Yuniornya (mahasiswa dibawahnya) sampai tamat pula.Demikian seterusnya hingga banyak yang menikmati dan mendapat beasiswa.
Akhirnya,melalui tulisan ini Penulis berharap Semua elemen masyarakat dan Pemerintah memperkuat Pendidikan ini.Pendidikan merupakan Pondasi sebuah peradaban yang ingin maju.Kalau ingin generasi muda Indonesia sukses di kemudian hari perbaiki mutu pendidikan.Wallahu’alam bishawab !!!(dimuat di harian haluan edisi mei 2008)
*Penulis adalah Penerima Beastudi Etos DD Republika dan saat ini masih menuntut ilmu di Fakultas Hukum Universitas Andalas.Saat ini menjabat sebagai Sekretaris DPC PERMAHI Padang 2008-2010.
Senin, 01 Desember 2008
Kewirausahaan : Yusmael
Yusmael: Arti Nilai Kepercayaan Dalam Bisnis Sepatu
Kuliah Umum Kewirausahaan Unand 2008
Oleh : Penulis Materi Kewirausahaan Unand
Penulis :Sriwahyudi dan Ichwan Adnan
Editor :Rivanli Azis
“ Yang penting dalam menjalankan suatu bisnis atau usaha adalah adanya kepercayaan dari masyarakat terhadap mutu dan kualitas kinerja kita selaku seorang wirausahawan”. Ya, sepenggalan kalimat itulah yang disampaikan pemateri dalam kuliah kewirausahaan Unand minggu ini. Sosok yang mengisi kuliah umum minggu ini adalah bapak Yusmael, seorang pengusaha sepatu yang mana merupakan pengusaha pertama yang bergerak di bidang properti yang hadir di Unand untuk mengisi materi kuliah minggu ke 4 November tahun ini.
Kuliah kewirausahaan kali ini dibuka oleh bapak rektor Unand, yang menyempatkan hadir untuk memberikan motivasi kepada mahasiswa yang hadir untuk selalu melakukan wirausaha apapun, asal halal. Langsung kepada pemateri kita minggu ini, sosok Yusmael memang terasa “asing” ditelinga sebagian mahasiswa yang hadir. Mungkin sosok ini lebih dikenal diluar pulau sumatera. Yusmael merupakan sosok yang memenuhi jumlah pengusaha yang sukses dalam pendidikan. Hal ini dapat dilihat dalam riwayat pendidikan dari yusmael yang berhasil sampai tamat pada jenjang pendidikan di STKIP Padang, walaupun dengan perjuangan yang berat dalam melalui semua rintangan yang dihadapi.
Perjalanan hidup beliau memberikan arti penting sebuah nilai harga diri dalam menjalankan hidup sebagai manusia. Bagaimana menghormati orang tua, guru, keluarga sampai kepada menghormati sebuah pekerjaan. Bagi penulis, tidak salah kalau Unand menghadirkan sosok ini untuk memberikan pengarahan kepada mahasiswa minggu ini. Ancung jempol untuk Unand. Beliau menjalani hidup dengan “susah payah” untuk dapat menuntut ilmu guna masa depannya nanti. Setelah tamat SD, beliau pernah bekerja di pasar dengan tanpa imbalan. Ya, mungkin hal ini sangat jarang kita temui, bekerja namun tidak “ingin” dibayar.
Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA, beliau melanjutkan pendidikan di STKIP Padang. Disamping kuliah, beliau mengajar di SMA yang mana gaji mengajar digunakan untuk membayar uang kuliah dan biaya hidup semasa kuliah di Padang. Pria yang memiliki “rasa keinginan tahu yang kuat” ini memiliki motivasi tersendiri ketika mengajar di sekolah, beliau ingin menjadi seorang guru. Namun apa boleh dikata, garis hidup beliau menggambarkan hal lain. Ketika masih mengajar, beliau menikah dengan status “terpaksa” yang mana dilakukan demi kepentingan keluarga semata.
Pengusaha sepatu ini menceritakan perjalanan usahanya setelah menikah banyak mengalami masa sulit, bahkan dirasa paling sulit yang dia rasakan selama menjadi manusia. Pertama adalah ketika dia berhenti menjadi pengajar, banyak sekali “ucapan-ucapan” rendahan akan dirinya. Dan yang kedua adalah bagaimana seorang istrinya begitu saja meninggalkan dirinya yang sedang mengalami masa sulit dalam perekonomian.
Dalam kondisi seperti itu, beliau memiliki motivasi tersendiri dalam hidupnya yang disampaikan kepada para mahasiswa yaitu kita boleh saja miskin harta tapi tidak dan jangan sampai miskin ilmu. Motivasi itulah yang membuat beliau bangkit dalam keterpurukannya, juga dibantu dengan selalu bermunajat kepada Allah SWT. Dalam pikiran beliau saat itulah adalah menjadi seorang entreprenuer sepatu.
Sosok yang memiliki omset usaha hingga 1,5 M ini lalu memulai usaha sepatu dengan bekerja sama dengan pihak bank. Dalam menjalankan bisnisnya tersebut, Yusmael telah mengalami “jatuh bangun” sebanyak tiga kali berturut-turut, dari tahun 2003 hingga akhir tahun 2006. Jika kita hitung, berarti itu telah terjadi dua tahun yang lalu. Kini, usaha beliaun telah meningkat pesat. Usahanya pun telah memiliki cabang yang terletak disebagian kota di Sumatera Barat. Bisnis sepatu beliau lebih memilih pasaran pada pejabat pemerintahan, walaupun tidak menutup kemungkinan juga meliputi ruang lingkup masyarakat umum.
Perusahaan sepatu Yusmael pertama kali dikenal dengan nama Yoesani Shoes, yang mana nama perusahaannya tersebut merupakan gabungan nama beliau, istri dan anak beliau. Namun karena tuntutan dunia usaha yang berkembang beliau menggantinya menjadi Honestly Shoes, nama yang satu ini cukup terkenal karena produk-produknya sudah dipakai oleh para pejabat pemerintah pusat seperti bapak wakil presiden RI, Yusuf Kalla.
Dalam memberikan pemaparannya kepada para hadirin yang mayoritas dihadir oleh mahasiswa itu, Yusmael banyak memberikan pelajaran dan pendidikan mengenal arti penting sebuah kepercayaan, karena dengan modal itulah beliau membangun bisnisnya ini hingga sekarang. Banyak sekali ucapan beliau yang memberikan motivasi tersendiri bagi kita. Seperti bagaimana sikap kita sebagai seorang pengusaha apabila kita sudah sukses dalam hidup kita. Dia menerapakan 3 prinsip yang harus tertanam dalam setiap diri wirausahawan sukses itu adalah tau akan pola “hitung-menghitung”, tau akan masyarakat (sosiologi), dan punya sikap sabar.
Berpikirlah secara positif, merupakan motivasi sosok yang merupakan alumnus STKIP jurusan sastra inggris tersebut. Ya, kita berharap setiap pengusaha mengenal akan dirinya dan masyarakat, karena hidup ini yang terpenting adalah bagaimana kita dapat berkomunikasi dengan masyarakat dilingkungan kita sendiri.
Perkenalan Yusmael dengan sepatu berawal dari keisengan anak kecil. Kalau anak-anak yang berusia sekitar 12 tahun, suka menggunakan waktu senggang mereka untuk lebih banyak bermain, lain sekali cara Yusmael menggunakan waktu senggangnya. Sejak kelas VI sekolah dasar, Yusmael, yang lahir pada tanggal 13 Juni 1963 ini, menggunakan waktu senggangnya untuk membuat tumit sepatu mainan anak-anak dengan bahan baku kayu di rumah tetangganya. Ketika itu dalam sehari bisa puluhan telapak sepatu dari kayu yang dihasilkan di rumah tetangga Yusmael. Sepatu-sepatu tersebut kemudian dijual ke pembuat sepatu di Padang. Walaupun akhirnya tetangganya tersebut pindah, namun pengalaman membuat tumit sepatu amat berbekas bagi Yusmael. Yang sangat menarik dan jauh setelah masa anak-anak itu akan menjadi warna kehidupan Yusmael adalah kesukaannya membuat tumit sepatu pada waktu senggangnya. Saat itu sepatu dan sandal dengan tapak dari kayu sedang trend meniru gaya sepatu penyanyi dangdut terkenal di masa itu, Arafik.
Keterampilan membuat tumit sepatu inilah yang dijualnya di bangku SMP. Beliau bekerja di sebuah bengkel milik orang China di daerah Pondok, Padang. Setelah di SMP, tumit sepatu buatannya mulai dijual. Pelan-pelan Yusmael mulai memusatkan perhatiannya pada sepatu. Majalah-majalah yang menyajikan gambar berbagai macam sepatu, khususnya tentang tumit sepatu senantiasa menyita perhatiannya. Lalu ia pun berniat untuk belajar membuat sepatu. Niat itu dilaksanakannya waktu Yusmael menimba ilmu di SMA 1 Lubuk Alung. Sebutan sebagai “tukang tumit dari Lubuk Alung” sudah melekat pada dirinya. Sudah tiba waktunya untuk belajar dapat membuat sepatu. Dia mulai mencoba memadukan bagian-bagian yang membentuk sebuah sepatu.
Bayang-bayang mampu membuat sepatu sempat dibawa Yusmael masuk ke dalam kampus tempat Yusmael kuliah, yaitu kampus jurusan bahasa Inggris Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan (STIK), Lubuk Alung, sambil mengajar Bahasa Inggris di beberapa sekolah. Beliau pernah mengajar Bahasa Inggris dalam rentang tahun 1988 sampai tahun 1990 di SMA Yayasan Dharma Bhakti (YDB), STM YDB Lubuk Alung, Sekolah Perikanan Kiambang, dan SMP Sosial. Sekolah yang terakhir disebutkan sekarang telah ditutup.
Tingkat berikutnya adalah belajar dapat membuat sepatu tidak kalau sempat atau setengah-setengah. Karena dianggap punya bakat membuat sepatu, pada 1993 melalui dana bantuan desa (Bandes) ia mendapat beasiswa kursus membuat sepatu di Cibaduyut, sebuah tempat yang sudah sangat dikenal secara luas sebagai sentra produksi sepatu, bersama 14 pemuda di kampungnya. Karena ini kesempatan emas, menurut beliau, selama 40 hari kursus tidak beliau sia-siakan untuk belajar membuat sepatu mulai dari membuat pola, desain hingga langsung praktek membuat sepatu. Bila belasan peserta kegiatan lainnya memilih menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di kota Bandung, Yusmael justru asyik mengamati proses pembuatan sepatu sekaligus mempraktikkannya. Karena begitu asyiknya berusaha mewujudkan cita-citanya, dia kadang tidur di rumah pembuat sepatu.
Saat pulang dari Cibaduyut, ia diberi modal Rp1,5 juta oleh penyelenggara untuk modal awal membuat sepatu. Sampai di kampung, dengan modal kecil Yusmael mulai membuat sepatu di rumah mertuanya. Kebetulan ada pengusaha Padang yang tertarik memodali usaha sepatunya. Pengusaha keturunan Tionghoa ini membiayai seluruh produksi dan membayar gaji pekerja yang membuat sepatu. Yusmael membuat sepatu anak-anak dalam sehari sebanyak 80 pasang sepatu, dan pengusaha tersebut yang memasarkan ke Padang, Batam, Pekanbaru dan Jambi dengan merek Yoesani. Merek tersebut merupakan singkatan dari nama beliau, anak beliau, dan anak belaiu. Yusmael, Azani, dan Nuraini.
Awalnya sepatu Yusmael dianggap sepatu buatan Bandung. Namun, kemudian beberapa pemilik toko sepatu di Padang tahu sepatu itu bukan buatan Bandung tetapi buatan Lubuk Alung. Setelah itu para pemilik took tersebut tidak mau menerima karena katanya kalau konsumen tahu sepatu itu buatan Lubuk Alung tidak bisa laku. Terlecut oleh penolakan orang awak sendiri, Yusmael makin bertekad meningkatkan mutu sepatunya dan tetap ingin jujur mengatakan sepatunya memang dibuat di Lubuk Alung.
Ayah dari tiga orang anak, Taufik Azani (18), Arief Rahmat Azani (12), dan Haulia Rahman (5), ini kemudian mengganti merek sepatunya dengan “Honesty” yang artinya kejujuran. Beliau lalu berusaha sendiri dan tetap membuat sepatu serta memasarkannya sendiri ke Padang dan Pekanbaru. Akhirnya mulai tahun 1994 beliau berhasil membuka toko sepatu. Tidak di supermarket, mal atau ruko, melainkan di tempatnya sendiri. Nyatanya, usaha membuat sepatu dan menjualnya dengan segala suka dukanya telah mampu menjadi andalan hidup bagi Yusmael dengan seluruh angota keluarganya dan 30 orang perajin sepatu dengan tanggungan mereka ketika itu. Pada 1996, beliau memamerkan produk sepatunya di pameran yang digelar Kadin di Hotel Ina Muara Padang. Orang Kadin (Kamar Dagang dan Industri) terkejut karena ada sepatu bagus buatan local. Kemudian pihak Kadin memberi dukungan dan meminta beliau membuat sepatu yang sedang trend di televisi dan majalah. Setelah itu pesanan dari orang-orang pemerintah mulai berdatangan. Bahkan ada pesanan 2 ribu pasang sepatu untuk pekerja di kantor gubernur Sumatera Barat. Karena banyak mempekerjakan pemuda setempat, Yusmel diberi bantuan life skill sebesar Rp75 juta dari Dinas Pendidikan Sumatera Barat pada 2002. Beberapa pemuda kembali direkrut sekaligus dilatih membuat sepatu di tempatnya.
Karena rajin mengikuti berbagai pameran, pada 2005 ia mulai dapat order dari Trengganu, Malaysia senilai Rp 200 juta untuk 1.000 pasang sepatu. Setelah itu dapat order lagi dari Bendahara Pramuka sepatu khusus untuk penderita sakit gula senilai Rp50 juta untuk mengirimkan sepatu buatannya yang akan dijual di Malaysia. Beliau juga pernah diundang ke Malaysia untuk mendaftarkan merek halal untuk sepatu saya di Malaysia. Ketika itu beliau disuruh pura-pura menjadi orang Malaysia dan dibawa ke pameran sepatu internasional di Kuala Lumpur pada tahun 2005. Sekarang merek halal untuk sepatu “Honesty” sudah keluar dimana salah satu syaratnya hewan yang akan diambil kulitnya disembelih secara islami.
Suami dari Nuraini ini berpesan agar kita jangan terlalu percaya dengan barang luar yang dianggap bagus dengan harga tinggi, padahal asalnya juga banyak dari Indonesia. Beliau ingin menjual sepatu bagus dengan harga terjangkau untuk kalangan menengah, karena untuk kalangan bawah sudah diambil alih produk buatan Cina.
Saat ini bahan baku kulit untuk sepatu di pabriknya masih dibeli dari Bandung dan Surabaya. Beliau ingin membuka pabrik sepatu yang besar di Lubuk Alung sekaligus memproduksi sendiri kulit untuk bahan sepatu. Konkritnya, beliau ingin Lubuk Alung menjadi sentra produksi sepatu terbesar kelima di Indonesia.
Sepatu “Honesty” bergaransi 1 tahun untuk pria dan 6 bulan untuk wanita. Menurut beliau, hal ini selain untuk memproteksi konsumen juga agar pekerja lebih berhati-hati dalam menjaga mutu.
Saat ini Yusmael lebih fokus pada pasaran di Sumatera Barat, karena sepatunya sudah diterima ole konsumen. Dalam sebulan ia memproduksi 1.500 pasang sepatu dengan omset Rp150 juta sebulan. Harga sepatunya mulai dari Rp100 ribu hingga Rp250 ribu..
Karena di Indonesia ini biasanya pertama bikin barang bagus, setelah itu barangnya nggak bagus lagi. Jadi kita ingin jangan diturunkan mutu, coba pertahankan terus. Desainnya kita adopsi dari internet, dari televisi yang sedang trend, atau selera konsumen.
Sepatu bukan sekadar alas kaki bagi Yusmael (42). Perpaduan kulit dan kayu itu merupakan proses belajar tak berkesudahan. Kini, sepatu menjadi alas hidup bagi dia, keluarga, serta 30 perajin sepatu.
Ketika banyak orang sekampung memilih bekerja sebagai pegawai, Yusmael justru asyik membuat ratusan model sepatu, pria dan wanita dengan beragam warna, yang kini terpajang di tokonya.
"Masyarakat sering kali terpaksa membeli sepatu handmade buatan luar negeri dengan harga mahal karena tidak ada pilihan lagi. Kami mencoba membuat sepatu berkualitas dengan harga terjangkau," tutur Yusmael yang mematok harga mulai Rp 60.000 hingga Rp 350.000 per pasang.
Puluhan bahkan ratusan kotak sepatu hampir memenuhi ruangan di rumahnya yang terletak tepat di belakang toko itu. Pengunjung yang sudah dikenalnya boleh masuk ke rumah untuk memilih sepatu yang disukai. Maklum, tidak semua sepatu bisa dipajang di toko yang hanya berukuran sekitar 5 x 7 meter persegi itu.
Pada ruangan lain, kain-kain bahan sepatu, kayu, lem, dan beragam bahan pembuat sepatu digeletakkan. Di ruang paling belakang, 30 perajin menekuni mesin jahit dan alat-alat yang diperlukan dalam proses produksi. Pilihan menekuni sepatu justru membuka tempat kerja baru bagi puluhan warga kampung yang menganggur.
Baginya, "dapur" pembuatan sepatu tidak harus ditutupi, tetapi justru dibuka bagi siapa pun yang ingin belajar. Seperti merek Honesty, Yusmael berani jujur tentang kualitas sepatu yang diproduksinya.
Ilmu membuat sepatu bukanlah sesuatu yang sulit dipelajari, tetapi membutuhkan keterampilan khusus dan ketekunan. "Dalam kurun waktu tiga bulan seseorang sudah bisa membuat sepatu," kata Yusmael yang juga pernah mengajar bahasa Inggris ketika kuliah.
Dengan bantuan Departemen Pendidikan Nasional, dia membuka kesempatan bagi pemuda putus sekolah di sekitar daerahnya tinggal untuk mengikuti workshop pembuatan sepatu selama 3 bulan di bengkel sepatunya.
Setelah itu, peserta workshop bisa bekerja di tempatnya. Tiga puluh karyawan pembuat sepatu yang bekerja di bengkelnya saat ini merupakan alumnus pelatihan itu, sementara 10 orang lainnya memilih keluar dari pekerjaan ini.
Keterampilan yang dimiliki perajin sepatu bisa ditularkan kepada orang lain. Dengan demikian, perajin sepatu yang dicetak Yusmael bisa mencetak perajin lain lagi. Produksi sepatu mereka kemudian ditampung Yusmael.
Yusmael mengakui, tidak mudah mengubah paradigma anak muda untuk menjadi wirausahawan. "Masih banyak orang yang mengantre untuk menjadi pegawai negeri ketimbang menekuni kerajinan sepatu, meskipun pendapatan sebagai perajin sepatu sering lebih besar dibandingkan penghasilan pegawai negeri sipil," tutur Yusmael, sambil menambahkan, upah perajin sepatu di tempatnya mencapai Rp 750.000 per minggu.
Jumlah nominal itu setara dengan upah minimum regional Sumbar tahun 2007. Dia mengakui usaha sepatu yang dijalankannya masih butuh perbaikan di sana-sini. Masalah manajemen tenaga kerja, misalnya, masih perlu dipoles lagi.
"Ada saja karyawan yang bermasalah. Ada yang merasa tidak puas dengan gaji lalu memilih untuk keluar. Seharusnya, masalah seperti ini bisa dikomunikasikan dengan pimpinan," kata Yusmael yang menjalankan usaha bersama istrinya, Nuraini.
Terlepas dari pelbagai masalah itu, Yusmael berencana mendirikan toko di daerah Bukittinggi dan sekitarnya, serta Pekanbaru, mulai tahun 2008. Ekspansi ke berbagai wilayah di Sumatera ini juga tengah direncanakannya.
Ada dua prinsip Yusmael ketika memasarkan sepatu yaitu dengan mempertahankan kualitas dan menekan harga agar terjangkau banyak orang. Konsekuensinya, alokasi dana promosi dipangkas habis. Promosi yang dilakukan hanya dari mulut ke mulut atau disebut person-to-person promotion. Menurut beliau konsumen yang datang hari ini adalah konsumen yang pernah memakai sepatu buatannya dan merasakan kualitas yang sama dengan sepatu berharga mahal.
Merk sepatu buatan Yusmael adalah Honesty, yang telah amat dikenal para peminatnya, melalui gerainya yang beralamat di Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Untuk menemukannya tidaklah sulit. Karena, gerai yang berukuran 5 x 7 meter tersebut terletak di tepi jalan Lintas Padang-Kota Pariaman. Sepatu merk Honesty sudah mulai terkenal, tidak hanya di daerah Sumatera Barat saja, melainkan juga telah masuk ke daerah Riau dan bahkan sampai ke manca negara, yaitu Malaysia. Pak Yusmael memasang harga yang bervariasi mulai dari Rp60.000,- hingga Rp350.000,- tiap pasang. Untuk memberikan jaminan mutu, sepatu merek Honesty mempunyai garansi sampai enam bulan.
Letak pabrik sepatu Honesty tidak jauh dari gerainya, yaitu tepat di belakang gerai tersebut. Pabrik sepatu Honesty terbuka bagi siapa pun yang berminat untuk belajar dalam produksi sepatu. Tidak terlalu lama, hanya kurang lebih selama tiga bulan, kalau serius seseorang sudah bisa mahir memproduksi sepatu dengan kualitas yang bagus. Kesedian Yusmael untuk membuka pabriknya bagi siapa pun yang dengan sungguh-sungguh mau belajar membuat sepatu, bukannya basa-basi, melainkan suatu komitmen. Buktinya, dengan bantuan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Yusmael memberikan kesempatan untuk mengikuti workshop pembuatan sepatu selama 3 bulan, di pabriknya, bagi pemuda putus sekolah yang bertempat tinggal di sekitar daerahnya. Salah satu hasilnya adalah ke tiga puluh perajin sepatu yang saat ini bekerja di pabriknya adalah lulusan workshop tersebut. Selain itu, lulusan yang membuka usaha pembuatan sepatu, dapat menjual sepatu produknya kepada Yusmael.
Pengalaman Yusmael mengantarnya ke salah satu kesimpulan, bahwa mengubah paradigma anak muda tidaklah mudah. Yusmael mengakui, tidak mudah mengubah paradigma anak muda untuk menjadi wirausahawan. Pada umumnya mereka jauh lebih suka menanti kesempatan untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS) daripada menjadi perajin sepatu. Padahal beliau memberi upah perajin sepatu sebesar Rp750.000,- per minggu atau Rp3.000.000,- perbulan.
Sampai sekarang Yusmael telah membuka toko sepatu di Pasaman dan Pekan Baru
Yusmael memegang teguh dua prinsip dalam menjalankan bisnis sepatu ini yaitu dengan mempertahankan atau tingkatkan mutu produk sepatunya dan menekan harga, agar lebih terjangkau calon pembeli.
Analisis
1. Karena ketertarikan Yusmael pada sepatu sudah mulai kelihatan pada usia anak baru mulai gede, kelas VI sekolah dasar/SD, walau baru pada bagian tumit sepatu, dan terus berlanjut sampai dia duduk di SMP, SMA dan perguruan tinggi, dapat ditarik kesimpulan, bahwa Yusmael dicipta dan dilahirkan dengan dilengkapi bakat atau talenta mampu membuat sepatu, sebagai sarana pelaksanaan tugas pelayanan Yusmael terhadap sesama ciptaan, dalam hidupnya.
Betapa kuat kesimpulan tersebut di atas. Coba bayangkan, dalam masa studi yang meliputi bentangan waktu paling tidak 10 tahun (SMP, SMA dan perguruan tinggi) Yusmael tetap memutuskan perhatian pada dan upaya untuk dapat membuat sepatu, di samping studi. Buktinya, dia sempat menjadi guru bahasa Inggris di beberapa sekolah. Di samping itu, pada umumnya, kesibukan anak baru gede, remaja dan anak/orang dewasa di luar kegiatan belajar, bukanlah belajar dan berlatih membuat tumit sepatu dan sepatu.
Unsur ketiga adalah tiadanya campur tangan orang tua Yusmael dalam mengantar dan memfasilitasi anaknya untuk dapat menjadi pembuat sepatu. Waktu di SMP Yusmael belajar, membuat tumit sepatu. Waktu di SMP belajar membuat sepatu.
2. Dua “sayap” Yusmael berhasil mengepak dengan sangat baik “sayap” yang satu
adalah jalur pendidikan formal yang sangat diikuti Yusmael, yaitu jurusan bahasa
Inggris, Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan (STIK). Dia berhasil dan karenanya dia sempat mengajar bahasa Inggris di sekolah menengah atas (SMA). “sayap” yang kedua adalalah mampunya untuk membuat tujuh puluh lima (75) pasang sepatu, Merk Honesty, yang sudah cukup luas dikenal masyarakat di Bukit Tinggi dan Pakan Baru dan sekitarnya. Dan kini tengah berencana untuk membuka toko di kota-kota lain. Meskipun sama-sama berhasil, tetap ada perbedaan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Kalau memilih jadi guru, berarti jadi karyawan. Sementara kalau memilih jadi pengusaha sepatu, berarti menjadi majikan atau pengusaha. Perbedaan lain berkaitan dengan jumlah imbalan yang diterima. Jumlah imbalan perbulan sebagai guru, karyawan, pastilah tidak sama dengan jumlah imbalan per bulan sebagai pengusaha sepatu, yang mempekerjakan 30 orang perajin dan menghasilkan 75 pasang sepatu/hari. Itulah sebabnya Yusmael tidak hendak mengakhiri usahanya, melainkan justru akan mendirikan toko-toko sepatunya di luar Bukit Tinggi dan Pakan Baru. Tentu saja di kota-kota di Sumatera Barat. Upaya itu telah dimilai pada awal tahun 2008.
Kini Cibaduyut yang terkenal dengan sepatu lokalnya kini mendapat pesaing dari Sumatera Barat. “Honesty” adalah merek sepatu made in Nagari Sintuk, Lubuk Alung. Empat tahun terakhir sepatu buatan lokal ini mulai menguasai pasaran di Sumatera Barat dengan mutu tidak kalah bersaing dengan Cibaduyut.
Sepatu-sepatu buatan Yusmael ini diproduksi secara home industry dari Lubuk Alung,. Mencari rumahnya tidaklah sulit, karena berada di pinggir jalan raya Padang-Pariaman, tepatnya di Nagari Toboh Baru, Sintuk Barat, Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Di bagian depan rumah ada ruang pamer sekaligus menjadi toko sepatu seluas 3 X 5 meter. Dalam ruangan toko kita bisa melihat puluhan sepatu dan sandal kulit dengan model terbaru berjejer di rak-rak. Mulai dari sepatu anak-anak, wanita, hingga sepatu pria.
Itulah ruang pamer sepatu dengan merek “Honesty” milik Yusmael. Selain menjual sepatu di ruang pamer, di tempat ini konsumen juga bisa memesan sepatu atau sandal sesuai keinginan. Bisa dengan membawa guntingan majalah atau gambar sepatu yang diinginkan. Selain ruang pamer yang berada di rumah mertuanya ini, Yusmael juga menyulap bagian belakang rumah menjadi bengkel pembuatan sepatu. Dalam ruangan ini belasan pekerja terlihat sedang membuat sepatu berbagai model. Yusmael mempekerjakan 33 orang pemuda setempat yang bekerja bergantian.
Yang dapat dipetik
• Karena Yusmael mengenali bakatnya, dia tekun sekali dalam upaya mewujudkan keinginannya membuat tumit sepatu dan selanjutnya membuat sepatu. Karena kesungguhan dan ketekunannya, Yusmael dapat dijangkau para calon pembeli sepatu buatannya. Karena mutu yang baik dan harga yang terjangkau, sepatu buatan Yusmael diminati orang banyak. Karena sepatu buatannya diminati orang banyak Yusmael dikenal luas dan siap buka toko sepatu buatannya yang diberinya merk Honesty. Toko yang sudah dibuka adalah toko di Bukit Tinggi dan Pakan Baru.
Akan menyusul toko di kota-kota lain di Sumatera Barat. Dari “mata air” yang kecil yaitu belajar membuat tumit sepatu, kini telah mengalir “sungguh besar”. Yaitu pabrik sepatu dengan 30 orang perajin sepatu dan toko-tokonya.
2. Semua akibat yang timbul, apa pun bentuknya, baik yang dapat dilihat, didengar maupun dirasa, timbul karena ada sebab yang mendahului dan menimbulkannya.
Untuk dapat memperoleh akibat yang baik, yang diharapkan, sebab haruslah baik. Bentuknya dalah:
a. Kemauan keras dan tidak goyah oleh sebab apapun.
b. Kemampuan memadai
- Dalam membuat perencanaan
- Dalam melaksanakan perencanaan
Untuk itu yang bersangkutan harus belajar dan berlatih. Keduanya harus berhasil.
c. Keberanian untuk berusaha tidak dapat diragukan. Karena yakin dan kuat rasa percaya diri.
d. Tangkap dan manfaatkan peluang yang terbuka, banyak yang datang dari luar maupun yang merupakan buah pemikiran dan atau pengamatan.
c. Selalu optimis, optimis yang beralasan
Yusmael mampu memenuhi semua unsur sebab yang membuahkan akibat yang diharapkan.
Kuliah Umum Kewirausahaan Unand 2008
Oleh : Penulis Materi Kewirausahaan Unand
Penulis :Sriwahyudi dan Ichwan Adnan
Editor :Rivanli Azis
“ Yang penting dalam menjalankan suatu bisnis atau usaha adalah adanya kepercayaan dari masyarakat terhadap mutu dan kualitas kinerja kita selaku seorang wirausahawan”. Ya, sepenggalan kalimat itulah yang disampaikan pemateri dalam kuliah kewirausahaan Unand minggu ini. Sosok yang mengisi kuliah umum minggu ini adalah bapak Yusmael, seorang pengusaha sepatu yang mana merupakan pengusaha pertama yang bergerak di bidang properti yang hadir di Unand untuk mengisi materi kuliah minggu ke 4 November tahun ini.
Kuliah kewirausahaan kali ini dibuka oleh bapak rektor Unand, yang menyempatkan hadir untuk memberikan motivasi kepada mahasiswa yang hadir untuk selalu melakukan wirausaha apapun, asal halal. Langsung kepada pemateri kita minggu ini, sosok Yusmael memang terasa “asing” ditelinga sebagian mahasiswa yang hadir. Mungkin sosok ini lebih dikenal diluar pulau sumatera. Yusmael merupakan sosok yang memenuhi jumlah pengusaha yang sukses dalam pendidikan. Hal ini dapat dilihat dalam riwayat pendidikan dari yusmael yang berhasil sampai tamat pada jenjang pendidikan di STKIP Padang, walaupun dengan perjuangan yang berat dalam melalui semua rintangan yang dihadapi.
Perjalanan hidup beliau memberikan arti penting sebuah nilai harga diri dalam menjalankan hidup sebagai manusia. Bagaimana menghormati orang tua, guru, keluarga sampai kepada menghormati sebuah pekerjaan. Bagi penulis, tidak salah kalau Unand menghadirkan sosok ini untuk memberikan pengarahan kepada mahasiswa minggu ini. Ancung jempol untuk Unand. Beliau menjalani hidup dengan “susah payah” untuk dapat menuntut ilmu guna masa depannya nanti. Setelah tamat SD, beliau pernah bekerja di pasar dengan tanpa imbalan. Ya, mungkin hal ini sangat jarang kita temui, bekerja namun tidak “ingin” dibayar.
Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA, beliau melanjutkan pendidikan di STKIP Padang. Disamping kuliah, beliau mengajar di SMA yang mana gaji mengajar digunakan untuk membayar uang kuliah dan biaya hidup semasa kuliah di Padang. Pria yang memiliki “rasa keinginan tahu yang kuat” ini memiliki motivasi tersendiri ketika mengajar di sekolah, beliau ingin menjadi seorang guru. Namun apa boleh dikata, garis hidup beliau menggambarkan hal lain. Ketika masih mengajar, beliau menikah dengan status “terpaksa” yang mana dilakukan demi kepentingan keluarga semata.
Pengusaha sepatu ini menceritakan perjalanan usahanya setelah menikah banyak mengalami masa sulit, bahkan dirasa paling sulit yang dia rasakan selama menjadi manusia. Pertama adalah ketika dia berhenti menjadi pengajar, banyak sekali “ucapan-ucapan” rendahan akan dirinya. Dan yang kedua adalah bagaimana seorang istrinya begitu saja meninggalkan dirinya yang sedang mengalami masa sulit dalam perekonomian.
Dalam kondisi seperti itu, beliau memiliki motivasi tersendiri dalam hidupnya yang disampaikan kepada para mahasiswa yaitu kita boleh saja miskin harta tapi tidak dan jangan sampai miskin ilmu. Motivasi itulah yang membuat beliau bangkit dalam keterpurukannya, juga dibantu dengan selalu bermunajat kepada Allah SWT. Dalam pikiran beliau saat itulah adalah menjadi seorang entreprenuer sepatu.
Sosok yang memiliki omset usaha hingga 1,5 M ini lalu memulai usaha sepatu dengan bekerja sama dengan pihak bank. Dalam menjalankan bisnisnya tersebut, Yusmael telah mengalami “jatuh bangun” sebanyak tiga kali berturut-turut, dari tahun 2003 hingga akhir tahun 2006. Jika kita hitung, berarti itu telah terjadi dua tahun yang lalu. Kini, usaha beliaun telah meningkat pesat. Usahanya pun telah memiliki cabang yang terletak disebagian kota di Sumatera Barat. Bisnis sepatu beliau lebih memilih pasaran pada pejabat pemerintahan, walaupun tidak menutup kemungkinan juga meliputi ruang lingkup masyarakat umum.
Perusahaan sepatu Yusmael pertama kali dikenal dengan nama Yoesani Shoes, yang mana nama perusahaannya tersebut merupakan gabungan nama beliau, istri dan anak beliau. Namun karena tuntutan dunia usaha yang berkembang beliau menggantinya menjadi Honestly Shoes, nama yang satu ini cukup terkenal karena produk-produknya sudah dipakai oleh para pejabat pemerintah pusat seperti bapak wakil presiden RI, Yusuf Kalla.
Dalam memberikan pemaparannya kepada para hadirin yang mayoritas dihadir oleh mahasiswa itu, Yusmael banyak memberikan pelajaran dan pendidikan mengenal arti penting sebuah kepercayaan, karena dengan modal itulah beliau membangun bisnisnya ini hingga sekarang. Banyak sekali ucapan beliau yang memberikan motivasi tersendiri bagi kita. Seperti bagaimana sikap kita sebagai seorang pengusaha apabila kita sudah sukses dalam hidup kita. Dia menerapakan 3 prinsip yang harus tertanam dalam setiap diri wirausahawan sukses itu adalah tau akan pola “hitung-menghitung”, tau akan masyarakat (sosiologi), dan punya sikap sabar.
Berpikirlah secara positif, merupakan motivasi sosok yang merupakan alumnus STKIP jurusan sastra inggris tersebut. Ya, kita berharap setiap pengusaha mengenal akan dirinya dan masyarakat, karena hidup ini yang terpenting adalah bagaimana kita dapat berkomunikasi dengan masyarakat dilingkungan kita sendiri.
Perkenalan Yusmael dengan sepatu berawal dari keisengan anak kecil. Kalau anak-anak yang berusia sekitar 12 tahun, suka menggunakan waktu senggang mereka untuk lebih banyak bermain, lain sekali cara Yusmael menggunakan waktu senggangnya. Sejak kelas VI sekolah dasar, Yusmael, yang lahir pada tanggal 13 Juni 1963 ini, menggunakan waktu senggangnya untuk membuat tumit sepatu mainan anak-anak dengan bahan baku kayu di rumah tetangganya. Ketika itu dalam sehari bisa puluhan telapak sepatu dari kayu yang dihasilkan di rumah tetangga Yusmael. Sepatu-sepatu tersebut kemudian dijual ke pembuat sepatu di Padang. Walaupun akhirnya tetangganya tersebut pindah, namun pengalaman membuat tumit sepatu amat berbekas bagi Yusmael. Yang sangat menarik dan jauh setelah masa anak-anak itu akan menjadi warna kehidupan Yusmael adalah kesukaannya membuat tumit sepatu pada waktu senggangnya. Saat itu sepatu dan sandal dengan tapak dari kayu sedang trend meniru gaya sepatu penyanyi dangdut terkenal di masa itu, Arafik.
Keterampilan membuat tumit sepatu inilah yang dijualnya di bangku SMP. Beliau bekerja di sebuah bengkel milik orang China di daerah Pondok, Padang. Setelah di SMP, tumit sepatu buatannya mulai dijual. Pelan-pelan Yusmael mulai memusatkan perhatiannya pada sepatu. Majalah-majalah yang menyajikan gambar berbagai macam sepatu, khususnya tentang tumit sepatu senantiasa menyita perhatiannya. Lalu ia pun berniat untuk belajar membuat sepatu. Niat itu dilaksanakannya waktu Yusmael menimba ilmu di SMA 1 Lubuk Alung. Sebutan sebagai “tukang tumit dari Lubuk Alung” sudah melekat pada dirinya. Sudah tiba waktunya untuk belajar dapat membuat sepatu. Dia mulai mencoba memadukan bagian-bagian yang membentuk sebuah sepatu.
Bayang-bayang mampu membuat sepatu sempat dibawa Yusmael masuk ke dalam kampus tempat Yusmael kuliah, yaitu kampus jurusan bahasa Inggris Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan (STIK), Lubuk Alung, sambil mengajar Bahasa Inggris di beberapa sekolah. Beliau pernah mengajar Bahasa Inggris dalam rentang tahun 1988 sampai tahun 1990 di SMA Yayasan Dharma Bhakti (YDB), STM YDB Lubuk Alung, Sekolah Perikanan Kiambang, dan SMP Sosial. Sekolah yang terakhir disebutkan sekarang telah ditutup.
Tingkat berikutnya adalah belajar dapat membuat sepatu tidak kalau sempat atau setengah-setengah. Karena dianggap punya bakat membuat sepatu, pada 1993 melalui dana bantuan desa (Bandes) ia mendapat beasiswa kursus membuat sepatu di Cibaduyut, sebuah tempat yang sudah sangat dikenal secara luas sebagai sentra produksi sepatu, bersama 14 pemuda di kampungnya. Karena ini kesempatan emas, menurut beliau, selama 40 hari kursus tidak beliau sia-siakan untuk belajar membuat sepatu mulai dari membuat pola, desain hingga langsung praktek membuat sepatu. Bila belasan peserta kegiatan lainnya memilih menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di kota Bandung, Yusmael justru asyik mengamati proses pembuatan sepatu sekaligus mempraktikkannya. Karena begitu asyiknya berusaha mewujudkan cita-citanya, dia kadang tidur di rumah pembuat sepatu.
Saat pulang dari Cibaduyut, ia diberi modal Rp1,5 juta oleh penyelenggara untuk modal awal membuat sepatu. Sampai di kampung, dengan modal kecil Yusmael mulai membuat sepatu di rumah mertuanya. Kebetulan ada pengusaha Padang yang tertarik memodali usaha sepatunya. Pengusaha keturunan Tionghoa ini membiayai seluruh produksi dan membayar gaji pekerja yang membuat sepatu. Yusmael membuat sepatu anak-anak dalam sehari sebanyak 80 pasang sepatu, dan pengusaha tersebut yang memasarkan ke Padang, Batam, Pekanbaru dan Jambi dengan merek Yoesani. Merek tersebut merupakan singkatan dari nama beliau, anak beliau, dan anak belaiu. Yusmael, Azani, dan Nuraini.
Awalnya sepatu Yusmael dianggap sepatu buatan Bandung. Namun, kemudian beberapa pemilik toko sepatu di Padang tahu sepatu itu bukan buatan Bandung tetapi buatan Lubuk Alung. Setelah itu para pemilik took tersebut tidak mau menerima karena katanya kalau konsumen tahu sepatu itu buatan Lubuk Alung tidak bisa laku. Terlecut oleh penolakan orang awak sendiri, Yusmael makin bertekad meningkatkan mutu sepatunya dan tetap ingin jujur mengatakan sepatunya memang dibuat di Lubuk Alung.
Ayah dari tiga orang anak, Taufik Azani (18), Arief Rahmat Azani (12), dan Haulia Rahman (5), ini kemudian mengganti merek sepatunya dengan “Honesty” yang artinya kejujuran. Beliau lalu berusaha sendiri dan tetap membuat sepatu serta memasarkannya sendiri ke Padang dan Pekanbaru. Akhirnya mulai tahun 1994 beliau berhasil membuka toko sepatu. Tidak di supermarket, mal atau ruko, melainkan di tempatnya sendiri. Nyatanya, usaha membuat sepatu dan menjualnya dengan segala suka dukanya telah mampu menjadi andalan hidup bagi Yusmael dengan seluruh angota keluarganya dan 30 orang perajin sepatu dengan tanggungan mereka ketika itu. Pada 1996, beliau memamerkan produk sepatunya di pameran yang digelar Kadin di Hotel Ina Muara Padang. Orang Kadin (Kamar Dagang dan Industri) terkejut karena ada sepatu bagus buatan local. Kemudian pihak Kadin memberi dukungan dan meminta beliau membuat sepatu yang sedang trend di televisi dan majalah. Setelah itu pesanan dari orang-orang pemerintah mulai berdatangan. Bahkan ada pesanan 2 ribu pasang sepatu untuk pekerja di kantor gubernur Sumatera Barat. Karena banyak mempekerjakan pemuda setempat, Yusmel diberi bantuan life skill sebesar Rp75 juta dari Dinas Pendidikan Sumatera Barat pada 2002. Beberapa pemuda kembali direkrut sekaligus dilatih membuat sepatu di tempatnya.
Karena rajin mengikuti berbagai pameran, pada 2005 ia mulai dapat order dari Trengganu, Malaysia senilai Rp 200 juta untuk 1.000 pasang sepatu. Setelah itu dapat order lagi dari Bendahara Pramuka sepatu khusus untuk penderita sakit gula senilai Rp50 juta untuk mengirimkan sepatu buatannya yang akan dijual di Malaysia. Beliau juga pernah diundang ke Malaysia untuk mendaftarkan merek halal untuk sepatu saya di Malaysia. Ketika itu beliau disuruh pura-pura menjadi orang Malaysia dan dibawa ke pameran sepatu internasional di Kuala Lumpur pada tahun 2005. Sekarang merek halal untuk sepatu “Honesty” sudah keluar dimana salah satu syaratnya hewan yang akan diambil kulitnya disembelih secara islami.
Suami dari Nuraini ini berpesan agar kita jangan terlalu percaya dengan barang luar yang dianggap bagus dengan harga tinggi, padahal asalnya juga banyak dari Indonesia. Beliau ingin menjual sepatu bagus dengan harga terjangkau untuk kalangan menengah, karena untuk kalangan bawah sudah diambil alih produk buatan Cina.
Saat ini bahan baku kulit untuk sepatu di pabriknya masih dibeli dari Bandung dan Surabaya. Beliau ingin membuka pabrik sepatu yang besar di Lubuk Alung sekaligus memproduksi sendiri kulit untuk bahan sepatu. Konkritnya, beliau ingin Lubuk Alung menjadi sentra produksi sepatu terbesar kelima di Indonesia.
Sepatu “Honesty” bergaransi 1 tahun untuk pria dan 6 bulan untuk wanita. Menurut beliau, hal ini selain untuk memproteksi konsumen juga agar pekerja lebih berhati-hati dalam menjaga mutu.
Saat ini Yusmael lebih fokus pada pasaran di Sumatera Barat, karena sepatunya sudah diterima ole konsumen. Dalam sebulan ia memproduksi 1.500 pasang sepatu dengan omset Rp150 juta sebulan. Harga sepatunya mulai dari Rp100 ribu hingga Rp250 ribu..
Karena di Indonesia ini biasanya pertama bikin barang bagus, setelah itu barangnya nggak bagus lagi. Jadi kita ingin jangan diturunkan mutu, coba pertahankan terus. Desainnya kita adopsi dari internet, dari televisi yang sedang trend, atau selera konsumen.
Sepatu bukan sekadar alas kaki bagi Yusmael (42). Perpaduan kulit dan kayu itu merupakan proses belajar tak berkesudahan. Kini, sepatu menjadi alas hidup bagi dia, keluarga, serta 30 perajin sepatu.
Ketika banyak orang sekampung memilih bekerja sebagai pegawai, Yusmael justru asyik membuat ratusan model sepatu, pria dan wanita dengan beragam warna, yang kini terpajang di tokonya.
"Masyarakat sering kali terpaksa membeli sepatu handmade buatan luar negeri dengan harga mahal karena tidak ada pilihan lagi. Kami mencoba membuat sepatu berkualitas dengan harga terjangkau," tutur Yusmael yang mematok harga mulai Rp 60.000 hingga Rp 350.000 per pasang.
Puluhan bahkan ratusan kotak sepatu hampir memenuhi ruangan di rumahnya yang terletak tepat di belakang toko itu. Pengunjung yang sudah dikenalnya boleh masuk ke rumah untuk memilih sepatu yang disukai. Maklum, tidak semua sepatu bisa dipajang di toko yang hanya berukuran sekitar 5 x 7 meter persegi itu.
Pada ruangan lain, kain-kain bahan sepatu, kayu, lem, dan beragam bahan pembuat sepatu digeletakkan. Di ruang paling belakang, 30 perajin menekuni mesin jahit dan alat-alat yang diperlukan dalam proses produksi. Pilihan menekuni sepatu justru membuka tempat kerja baru bagi puluhan warga kampung yang menganggur.
Baginya, "dapur" pembuatan sepatu tidak harus ditutupi, tetapi justru dibuka bagi siapa pun yang ingin belajar. Seperti merek Honesty, Yusmael berani jujur tentang kualitas sepatu yang diproduksinya.
Ilmu membuat sepatu bukanlah sesuatu yang sulit dipelajari, tetapi membutuhkan keterampilan khusus dan ketekunan. "Dalam kurun waktu tiga bulan seseorang sudah bisa membuat sepatu," kata Yusmael yang juga pernah mengajar bahasa Inggris ketika kuliah.
Dengan bantuan Departemen Pendidikan Nasional, dia membuka kesempatan bagi pemuda putus sekolah di sekitar daerahnya tinggal untuk mengikuti workshop pembuatan sepatu selama 3 bulan di bengkel sepatunya.
Setelah itu, peserta workshop bisa bekerja di tempatnya. Tiga puluh karyawan pembuat sepatu yang bekerja di bengkelnya saat ini merupakan alumnus pelatihan itu, sementara 10 orang lainnya memilih keluar dari pekerjaan ini.
Keterampilan yang dimiliki perajin sepatu bisa ditularkan kepada orang lain. Dengan demikian, perajin sepatu yang dicetak Yusmael bisa mencetak perajin lain lagi. Produksi sepatu mereka kemudian ditampung Yusmael.
Yusmael mengakui, tidak mudah mengubah paradigma anak muda untuk menjadi wirausahawan. "Masih banyak orang yang mengantre untuk menjadi pegawai negeri ketimbang menekuni kerajinan sepatu, meskipun pendapatan sebagai perajin sepatu sering lebih besar dibandingkan penghasilan pegawai negeri sipil," tutur Yusmael, sambil menambahkan, upah perajin sepatu di tempatnya mencapai Rp 750.000 per minggu.
Jumlah nominal itu setara dengan upah minimum regional Sumbar tahun 2007. Dia mengakui usaha sepatu yang dijalankannya masih butuh perbaikan di sana-sini. Masalah manajemen tenaga kerja, misalnya, masih perlu dipoles lagi.
"Ada saja karyawan yang bermasalah. Ada yang merasa tidak puas dengan gaji lalu memilih untuk keluar. Seharusnya, masalah seperti ini bisa dikomunikasikan dengan pimpinan," kata Yusmael yang menjalankan usaha bersama istrinya, Nuraini.
Terlepas dari pelbagai masalah itu, Yusmael berencana mendirikan toko di daerah Bukittinggi dan sekitarnya, serta Pekanbaru, mulai tahun 2008. Ekspansi ke berbagai wilayah di Sumatera ini juga tengah direncanakannya.
Ada dua prinsip Yusmael ketika memasarkan sepatu yaitu dengan mempertahankan kualitas dan menekan harga agar terjangkau banyak orang. Konsekuensinya, alokasi dana promosi dipangkas habis. Promosi yang dilakukan hanya dari mulut ke mulut atau disebut person-to-person promotion. Menurut beliau konsumen yang datang hari ini adalah konsumen yang pernah memakai sepatu buatannya dan merasakan kualitas yang sama dengan sepatu berharga mahal.
Merk sepatu buatan Yusmael adalah Honesty, yang telah amat dikenal para peminatnya, melalui gerainya yang beralamat di Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Untuk menemukannya tidaklah sulit. Karena, gerai yang berukuran 5 x 7 meter tersebut terletak di tepi jalan Lintas Padang-Kota Pariaman. Sepatu merk Honesty sudah mulai terkenal, tidak hanya di daerah Sumatera Barat saja, melainkan juga telah masuk ke daerah Riau dan bahkan sampai ke manca negara, yaitu Malaysia. Pak Yusmael memasang harga yang bervariasi mulai dari Rp60.000,- hingga Rp350.000,- tiap pasang. Untuk memberikan jaminan mutu, sepatu merek Honesty mempunyai garansi sampai enam bulan.
Letak pabrik sepatu Honesty tidak jauh dari gerainya, yaitu tepat di belakang gerai tersebut. Pabrik sepatu Honesty terbuka bagi siapa pun yang berminat untuk belajar dalam produksi sepatu. Tidak terlalu lama, hanya kurang lebih selama tiga bulan, kalau serius seseorang sudah bisa mahir memproduksi sepatu dengan kualitas yang bagus. Kesedian Yusmael untuk membuka pabriknya bagi siapa pun yang dengan sungguh-sungguh mau belajar membuat sepatu, bukannya basa-basi, melainkan suatu komitmen. Buktinya, dengan bantuan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Yusmael memberikan kesempatan untuk mengikuti workshop pembuatan sepatu selama 3 bulan, di pabriknya, bagi pemuda putus sekolah yang bertempat tinggal di sekitar daerahnya. Salah satu hasilnya adalah ke tiga puluh perajin sepatu yang saat ini bekerja di pabriknya adalah lulusan workshop tersebut. Selain itu, lulusan yang membuka usaha pembuatan sepatu, dapat menjual sepatu produknya kepada Yusmael.
Pengalaman Yusmael mengantarnya ke salah satu kesimpulan, bahwa mengubah paradigma anak muda tidaklah mudah. Yusmael mengakui, tidak mudah mengubah paradigma anak muda untuk menjadi wirausahawan. Pada umumnya mereka jauh lebih suka menanti kesempatan untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS) daripada menjadi perajin sepatu. Padahal beliau memberi upah perajin sepatu sebesar Rp750.000,- per minggu atau Rp3.000.000,- perbulan.
Sampai sekarang Yusmael telah membuka toko sepatu di Pasaman dan Pekan Baru
Yusmael memegang teguh dua prinsip dalam menjalankan bisnis sepatu ini yaitu dengan mempertahankan atau tingkatkan mutu produk sepatunya dan menekan harga, agar lebih terjangkau calon pembeli.
Analisis
1. Karena ketertarikan Yusmael pada sepatu sudah mulai kelihatan pada usia anak baru mulai gede, kelas VI sekolah dasar/SD, walau baru pada bagian tumit sepatu, dan terus berlanjut sampai dia duduk di SMP, SMA dan perguruan tinggi, dapat ditarik kesimpulan, bahwa Yusmael dicipta dan dilahirkan dengan dilengkapi bakat atau talenta mampu membuat sepatu, sebagai sarana pelaksanaan tugas pelayanan Yusmael terhadap sesama ciptaan, dalam hidupnya.
Betapa kuat kesimpulan tersebut di atas. Coba bayangkan, dalam masa studi yang meliputi bentangan waktu paling tidak 10 tahun (SMP, SMA dan perguruan tinggi) Yusmael tetap memutuskan perhatian pada dan upaya untuk dapat membuat sepatu, di samping studi. Buktinya, dia sempat menjadi guru bahasa Inggris di beberapa sekolah. Di samping itu, pada umumnya, kesibukan anak baru gede, remaja dan anak/orang dewasa di luar kegiatan belajar, bukanlah belajar dan berlatih membuat tumit sepatu dan sepatu.
Unsur ketiga adalah tiadanya campur tangan orang tua Yusmael dalam mengantar dan memfasilitasi anaknya untuk dapat menjadi pembuat sepatu. Waktu di SMP Yusmael belajar, membuat tumit sepatu. Waktu di SMP belajar membuat sepatu.
2. Dua “sayap” Yusmael berhasil mengepak dengan sangat baik “sayap” yang satu
adalah jalur pendidikan formal yang sangat diikuti Yusmael, yaitu jurusan bahasa
Inggris, Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan (STIK). Dia berhasil dan karenanya dia sempat mengajar bahasa Inggris di sekolah menengah atas (SMA). “sayap” yang kedua adalalah mampunya untuk membuat tujuh puluh lima (75) pasang sepatu, Merk Honesty, yang sudah cukup luas dikenal masyarakat di Bukit Tinggi dan Pakan Baru dan sekitarnya. Dan kini tengah berencana untuk membuka toko di kota-kota lain. Meskipun sama-sama berhasil, tetap ada perbedaan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Kalau memilih jadi guru, berarti jadi karyawan. Sementara kalau memilih jadi pengusaha sepatu, berarti menjadi majikan atau pengusaha. Perbedaan lain berkaitan dengan jumlah imbalan yang diterima. Jumlah imbalan perbulan sebagai guru, karyawan, pastilah tidak sama dengan jumlah imbalan per bulan sebagai pengusaha sepatu, yang mempekerjakan 30 orang perajin dan menghasilkan 75 pasang sepatu/hari. Itulah sebabnya Yusmael tidak hendak mengakhiri usahanya, melainkan justru akan mendirikan toko-toko sepatunya di luar Bukit Tinggi dan Pakan Baru. Tentu saja di kota-kota di Sumatera Barat. Upaya itu telah dimilai pada awal tahun 2008.
Kini Cibaduyut yang terkenal dengan sepatu lokalnya kini mendapat pesaing dari Sumatera Barat. “Honesty” adalah merek sepatu made in Nagari Sintuk, Lubuk Alung. Empat tahun terakhir sepatu buatan lokal ini mulai menguasai pasaran di Sumatera Barat dengan mutu tidak kalah bersaing dengan Cibaduyut.
Sepatu-sepatu buatan Yusmael ini diproduksi secara home industry dari Lubuk Alung,. Mencari rumahnya tidaklah sulit, karena berada di pinggir jalan raya Padang-Pariaman, tepatnya di Nagari Toboh Baru, Sintuk Barat, Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Di bagian depan rumah ada ruang pamer sekaligus menjadi toko sepatu seluas 3 X 5 meter. Dalam ruangan toko kita bisa melihat puluhan sepatu dan sandal kulit dengan model terbaru berjejer di rak-rak. Mulai dari sepatu anak-anak, wanita, hingga sepatu pria.
Itulah ruang pamer sepatu dengan merek “Honesty” milik Yusmael. Selain menjual sepatu di ruang pamer, di tempat ini konsumen juga bisa memesan sepatu atau sandal sesuai keinginan. Bisa dengan membawa guntingan majalah atau gambar sepatu yang diinginkan. Selain ruang pamer yang berada di rumah mertuanya ini, Yusmael juga menyulap bagian belakang rumah menjadi bengkel pembuatan sepatu. Dalam ruangan ini belasan pekerja terlihat sedang membuat sepatu berbagai model. Yusmael mempekerjakan 33 orang pemuda setempat yang bekerja bergantian.
Yang dapat dipetik
• Karena Yusmael mengenali bakatnya, dia tekun sekali dalam upaya mewujudkan keinginannya membuat tumit sepatu dan selanjutnya membuat sepatu. Karena kesungguhan dan ketekunannya, Yusmael dapat dijangkau para calon pembeli sepatu buatannya. Karena mutu yang baik dan harga yang terjangkau, sepatu buatan Yusmael diminati orang banyak. Karena sepatu buatannya diminati orang banyak Yusmael dikenal luas dan siap buka toko sepatu buatannya yang diberinya merk Honesty. Toko yang sudah dibuka adalah toko di Bukit Tinggi dan Pakan Baru.
Akan menyusul toko di kota-kota lain di Sumatera Barat. Dari “mata air” yang kecil yaitu belajar membuat tumit sepatu, kini telah mengalir “sungguh besar”. Yaitu pabrik sepatu dengan 30 orang perajin sepatu dan toko-tokonya.
2. Semua akibat yang timbul, apa pun bentuknya, baik yang dapat dilihat, didengar maupun dirasa, timbul karena ada sebab yang mendahului dan menimbulkannya.
Untuk dapat memperoleh akibat yang baik, yang diharapkan, sebab haruslah baik. Bentuknya dalah:
a. Kemauan keras dan tidak goyah oleh sebab apapun.
b. Kemampuan memadai
- Dalam membuat perencanaan
- Dalam melaksanakan perencanaan
Untuk itu yang bersangkutan harus belajar dan berlatih. Keduanya harus berhasil.
c. Keberanian untuk berusaha tidak dapat diragukan. Karena yakin dan kuat rasa percaya diri.
d. Tangkap dan manfaatkan peluang yang terbuka, banyak yang datang dari luar maupun yang merupakan buah pemikiran dan atau pengamatan.
c. Selalu optimis, optimis yang beralasan
Yusmael mampu memenuhi semua unsur sebab yang membuahkan akibat yang diharapkan.
Langganan:
Postingan (Atom)
